Kemenpora Gelar MTN Sertifikasi Tenaga Olahraga Pendidikan di Bandung
Bandung: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia melalui Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga menggelar Manajemen Talenta Nasional (MTN) Sertifikasi Tenaga Olahraga Pendidikan Tahun 2026 di Hotel Best Western Setiabudhi, Bandung, pada 24–27 Juni 2026. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian program Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga Nasional Kemenpora.
Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan memperkuat peran tenaga olahraga pendidikan dalam mendukung pembinaan olahraga berbasis sekolah sekaligus mendukung implementasi Manajemen Talenta Nasional di lingkungan pendidikan.
Puluhan peserta yang berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat mengikuti kegiatan tersebut. Peserta terdiri atas guru SD, SMP, SMA, unsur Dinas Pemuda dan Olahraga, serta mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap pengembangan olahraga pendidikan.
Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga, Khairil Adha membuka kegiatan berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan pikiran terbuka sehingga mampu menyerap berbagai materi yang disampaikan narasumber.
"Saya berharap para peserta di sini semua bisa mengosongkan cangkir ilmunya agar dapat menerima berbagai ilmu yang diberikan oleh para narasumber pada acara ini. Nantinya pada saat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat di lingkungannya masing-masing, para peserta juga dapat mendokumentasikan kegiatannya sebagai bentuk laporan yang akan diteruskan kepada Bapak Menteri Pemuda dan Olahraga," ujar Khairil.
Selama empat hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi mengenai hakikat olahraga pendidikan dan olahraga pelatihan, literasi fisikal dan literasi gerak, identifikasi bakat olahraga di lingkungan sekolah, tes dan pengukuran olahraga, serta model pembinaan atlet usia sekolah.
Dosen Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, Bambang Abdul Jabar, menjelaskan bahwa materi yang diberikan sangat penting bagi guru olahraga karena berkaitan dengan pemahaman, pengenalan, dan penghayatan gerak peserta didik mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Menurutnya, pendidikan jasmani memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat peserta didik terhadap aktivitas fisik sehingga olahraga dapat menjadi bagian dari gaya hidup mereka.
"Harapannya, anak-anak menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari kehidupannya sehingga mampu menerapkan gaya hidup aktif dan bergerak sepanjang hayat," ujar Bambang.
Ia menambahkan bahwa pelatihan tersebut diharapkan mampu menularkan berbagai metode pembelajaran dan strategi mengajar yang efektif sehingga para guru dapat menjadi penggerak budaya gerak di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Bambang juga mengapresiasi Kemenpora yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut dan berharap program serupa dapat terus berlanjut disertai monitoring dan evaluasi implementasi di sekolah.
Sementara itu, Dosen Program Studi Kepelatihan Fisik Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, Dikdik Zafar Sidik, menilai materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi guru PJOK, terutama bagi mereka yang memiliki minat menjadi pelatih di lingkungan sekolah.
Menurutnya, guru yang memiliki kemampuan kepelatihan akan memiliki keunggulan karena pendekatan pedagogis yang dimiliki dapat diterapkan dalam proses pembinaan atlet secara lebih efektif.
"Materi yang kami sampaikan, baik teori maupun praktik, merupakan kebutuhan pengetahuan yang sangat penting dan menjadi modal dasar bagi seorang guru PJOK. Sangat baik ketika seorang pelatih memiliki latar belakang sebagai guru karena secara pedagogis pendekatan yang dilakukan dalam proses kepelatihan akan lebih baik," ujar Dikdik.
Ia menjelaskan bahwa pembinaan olahraga di sekolah harus dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan. Pada jenjang sekolah dasar, pembinaan difokuskan pada pembentukan fondasi gerak melalui konsep learning to train, kemudian berlanjut pada tahap training to train di tingkat SMP dan training to compete di jenjang SMA.
"Kami berharap hasil pelatihan ini dapat diimplementasikan dengan baik sehingga banyak potensi baru yang dapat ditemukan dan kelak menjadi atlet-atlet yang mampu membawa prestasi bagi bangsa Indonesia," katanya.
Dikdik juga berharap program yang dilaksanakan Kemenpora dapat terus berlanjut dan ditingkatkan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas peserta.
Salah seorang peserta dari SDN Rancamanyar 3 Kabupaten Bandung, Fery Wibowo, mengaku memperoleh banyak manfaat dari materi pelatihan yang diberikan, khususnya mengenai pelatihan berjenjang yang disesuaikan dengan fase perkembangan peserta didik.
"Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah menyusun program latihan, kemudian mengaplikasikannya di sekolah. Setelah itu saya akan mendiseminasikan ilmu ini kepada rekan-rekan guru di daerah," ujarnya.
Peserta lainnya, Fanya Raisya dari SD Negeri Cigugur Tengah Mandiri 1 Kota Cimahi, mengatakan materi literasi fisik menjadi salah satu materi yang paling berkesan selama mengikuti pelatihan.
"Ternyata pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat mendalam dan berkontribusi besar terhadap pencapaian prestasi olahraga nasional," kata Fanya.
Ia berharap Kemenpora dapat terus memperbanyak kegiatan serupa bagi guru PJOK karena guru merupakan garda terdepan dalam menjaring bibit-bibit atlet potensial dari lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan MTN Sertifikasi Tenaga Olahraga Pendidikan Tahun 2026, Kemenpora berharap lahir tenaga olahraga pendidikan yang mampu menjadi penggerak budaya gerak, memperkuat olahraga pendidikan di sekolah, serta mendukung pembinaan talenta olahraga sejak usia dini sebagai bagian dari pembangunan olahraga nasional.(dok)











