Dari Keresahan Menjadi Gerakan, Kisah Rahma Yuniarsih Menggerakkan Ribuan Pemuda Lewat Literasi
"Rahma Yuniarsih merupakan sosok pemuda inspiratif yang percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Berangkat dari kepeduliannya terhadap ruang belajar dan kreativitas anak muda di masa pandemi, ia membangun komunitas Rumah Basama dan Jambi Karya Raya yang kini menjadi wadah bagi ribuan pemuda untuk belajar, berkolaborasi, dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat."
Jakarta: Tidak semua perubahan besar lahir dari rencana yang sempurna. Ada kalanya, perubahan justru bermula dari sebuah keresahan. Itulah yang dialami Rahma Yuniarsih, seorang pemuda asal Jambi yang memilih mengubah kegelisahan di masa pandemi menjadi gerakan nyata bagi sesama.
Saat aktivitas masyarakat terhenti akibat pandemi COVID-19, Rahma, begitu sapaannya, melihat banyak anak muda kehilangan ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan potensi. Alih-alih hanya menjadi penonton keadaan, ia memutuskan untuk bergerak. Dari langkah sederhana tersebut, lahirlah Rumah Basama dan Jambi Karya Raya. Dua komunitas yang menjadi wadah literasi, kreativitas, dan kolaborasi bagi generasi muda.
Apa yang bermula dari ruang diskusi kecil kini telah tumbuh menjadi gerakan yang melibatkan ribuan pemuda. Melalui berbagai kegiatan literasi, budaya, pendidikan, hingga pendampingan, komunitas yang dibangunnya terus membuka kesempatan bagi anak-anak muda untuk belajar bersama, berkarya, dan saling menguatkan.
Bagi Rahma Yuniarsih, membangun komunitas bukan sekadar mengumpulkan orang dalam satu kegiatan. Terpenting adalah menciptakan ruang aman bagi setiap orang untuk bertumbuh. Karena itu, berbagai program terus dikembangkan, mulai dari diskusi literasi, pelatihan, pendampingan, hingga gerakan Satu Buku Seribu Harapan. Gerakan yang mengajak masyarakat menumbuhkan budaya membaca sekaligus berbagi manfaat bagi sesama.
Konsistensi tersebut perlahan membuahkan hasil. Bersama komunitasnya, Rahma telah menerbitkan tujuh buku, melibatkan ribuan pemuda dalam berbagai kegiatan literasi dan pendidikan, membangun kolaborasi hingga tingkat nasional maupun internasional, serta didukung oleh puluhan relawan yang terus bergerak membawa dampak di berbagai daerah.
Meski demikian, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Rahma menyadari bahwa membangun gerakan sosial membutuhkan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Baginya, keberhasilan bukanlah tentang merasa paling hebat, melainkan tentang terus memperbaiki diri, menjaga semangat kolaborasi, dan memastikan komunitas tetap berjalan dengan visi yang jelas.
Prinsip tersebut menjadi pegangan dalam setiap langkahnya. Rahma percaya bahwa setiap pemuda memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan, sekecil apa pun langkah yang diambil. Yang terpenting adalah berani memulai dan tidak menunggu segala sesuatu terasa sempurna.
"Keberhasilan bukan hanya tentang sejauh mana kita melangkah, tetapi tentang seberapa banyak orang yang dapat kita rangkul untuk ikut melangkah bersama, percaya pada dirinya sendiri, dan berani mengambil peran untuk membawa manfaat bagi sesama," ungkap Rahma.
Semangat itulah yang menjadikan kisah Rahma Yuniarsih sebagai pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar. Kepedulian, keberanian mengambil langkah pertama, serta konsistensi untuk terus belajar dan berkolaborasi mampu melahirkan dampak yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan.
Bagi generasi muda Indonesia, kisah Rahma Yuniarsih menjadi bukti bahwa setiap keresahan dapat menjadi awal dari sebuah gerakan. Selama ada kemauan untuk bergerak dan menghadirkan manfaat bagi orang lain, selalu ada peluang untuk menciptakan perubahan yang berarti.
Tak perlu menunggu sempurna untuk mulai bergerak. Karena setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik dapat menjadi awal lahirnya harapan bagi banyak orang.(aul)










