Partisipasi Olahraga Disabilitas Perlu Ditingkatkan, Kemenpora Perkuat Penggerak di Daerah
Kediri: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus mendorong terwujudnya ekosistem olahraga yang inklusif. Salah satunya melalui program Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas "Berdaya" yang digelar di Kota Kediri, Minggu (23/8).
Pelaksana Tugas (Plt). Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga Kemenpora RI, Rika Aninggar Fitriasari, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan. Menurutnya, program ini merupakan langkah nyata negara dalam menjalankan Asta Cita keempat, yakni membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing, termasuk bagi masyarakat penyandang disabilitas.
"Berdaya ini maksudnya berintegritas, yakni peserta diharapkan dapat menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesionalisme, dan tanggung jawab yang besar. Kemudian empati, yakni memiliki kepedulian, menghargai potensi setiap teman-teman penyandang disabilitas," ujar Rika.
Ia menjelaskan, nilai "Berdaya" juga mencakup sikap responsif, dedikatif, adaptif, yakin, serta mampu menjadi agen perubahan.
Responsif berarti cepat tanggap terhadap berbagai tantangan dan kebutuhan dalam mengembangkan olahraga disabilitas. Sementara dedikatif berarti memiliki komitmen kuat untuk mengabdikan diri dalam memajukan olahraga disabilitas.
"Adaptif, yakni mampu menyesuaikan metode pembinaan dan pelatihan disabilitas. Tentunya metode-metode yang mungkin saat ini dijalani di beberapa kota masih metode yang langsung offline, ke depannya mungkin bisa berkembang menjadi metode blended learning," jelasnya.
Adapun sikap yakin, lanjut Rika, berarti memiliki keyakinan bahwa setiap orang mempunyai potensi besar yang dapat dikembangkan melalui olahraga.
Para peserta ToT juga diharapkan menjadi agen perubahan di daerah masing-masing. Mereka dapat berperan sebagai pelopor, fasilitator, sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.
"Ini semua adalah komitmen untuk berintegritas, empati, responsif, dedikatif, adaptif dan penuh keyakinan serta mampu menjadi agen perubahan yang inklusif, berprestasi dan berkelanjutan," katanya.
Rika mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat penyandang disabilitas berada di kisaran 8,5-9 persen dari populasi. Namun, berdasarkan data Kemenpora, dari sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas, baru 11,6 persen yang aktif berolahraga.
"Ini masih sangat rendah sekali. Masih banyak hal yang harus kita perbaiki, kenapa partisipasi berolahraga masih rendah," ujarnya.
Menurutnya, peningkatan partisipasi olahraga menjadi fondasi penting untuk menemukan dan mengembangkan potensi calon atlet disabilitas berprestasi.
"Partisipasi yang tinggi ini menjadi kunci atau fondasi untuk menemukan potensi-potensi menjadi calon-calon atlet disabilitas yang berprestasi. Potensi ini tidak akan berkembang pesat dengan partisipasi yang rendah," lanjutnya.
Karena itu, pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan peserta dalam menemukan dan membina calon atlet. Para penggerak juga diharapkan mampu mengembangkan berbagai potensi lain yang dimiliki penyandang disabilitas.
"Kami berharap kepada teman-teman bahwa jadilah pelatih yang menggerakkan, jadilah pendamping yang menguatkan dan jadilah pemimpin yang melahirkan perubahan," kata Rika.
Ketua NPCI Kota Kediri, Nanda Mei Sholihah, menyampaikan apresiasi karena Kota Kediri dipilih menjadi salah satu daerah untuk mengembangkan olahraga bagi penyandang disabilitas.
"Olahraga disabilitas sangat berkembang pesat. Terima kasih atas antusias yang luar biasa untuk mengembangkan olahraga disabilitas khususnya yang ada di Kota Kediri," ujar Nanda.
Namun, ia menyebut akses informasi mengenai olahraga disabilitas masih menjadi salah satu kendala. Terutama bagi penyandang disabilitas yang tinggal di daerah terpencil dan kesulitan mendapatkan akses untuk bergabung dalam kegiatan olahraga disabilitas.
"Sejauh ini masih menggunakan cara dari pintu ke pintu yang masih kita pertahankan untuk menarik potensi-potensi calon atlet muda yang memang tertarik di dunia olahraga disabilitas," jelasnya.
Nanda berharap kolaborasi berbagai pihak dapat terus diperkuat untuk memperluas akses olahraga bagi penyandang disabilitas.
"Untuk itu kita bisa berkolaborasi dan berharap kita semua mendukung perkembangan olahraga disabilitas untuk teman-teman yang mungkin aksesnya masih kurang untuk bergabung," pungkasnya.(ben)










