Sempat Ingin Menyerah, Imam Bangkit demi Anak hingga Jadi Atlet Blind Judo
Kediri: Imam Bahroni pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Kehilangan penglihatan pada 2018 membuat pria yang saat itu berusia 28 tahun tersebut merasa terpuruk, malu bertemu orang lain, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
Namun, kondisi itu perlahan berubah. Imam memilih bangkit demi keluarganya, terutama anaknya. Kini, ia menekuni olahraga blind judo dan masih tercatat sebagai atlet blind judo Kota Kediri.
Imam saat ini juga tengah menimba ilmu pijat (massage) di sebuah sekolah pijat di Malang. Ia bergabung dengan National Paralympic Committee (NPC) pada 2023 dan mulai menekuni blind judo pada awal 2024.
"Netra saya itu 2018, total 100 persen. Penyebabnya karena kelemahan saraf pada mata. Saat itu usia saya masih 28 tahun, sekarang 37 tahun," kata Imam saat ditemui pada ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Kota Kediri, Minggu (23/8).
Kehilangan penglihatan menjadi pukulan berat bagi Imam. Saat itu, ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.
"Saya sampai seperti mau menyerah. Saya malu bertemu orang. Setiap ada orang, saya malu. Saya banyak mengurung diri di kamar," ujarnya.
Titik balik Imam datang ketika ia menyadari harus melawan dirinya sendiri. Ia dihadapkan pada pilihan untuk terus terpuruk atau bangkit dan kembali berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Tantangan terbesar itu melawan diri sendiri. Apakah saya tetap terpuruk, tetap mengurung diri di kamar, atau saya harus bangkit dan bisa mencukupi keluarga saya, terutama anak saya," tuturnya.
Keputusan menekuni blind judo pada awalnya tidak langsung mendapat dukungan penuh dari keluarga. Orang tua Imam sempat khawatir dengan risiko yang mungkin dihadapi dalam olahraga tersebut.
Namun, pandangan keluarga berubah setelah Imam mengikuti ajang Peparnas di Solo pada 2025. Mereka melihat langsung bahwa penyandang tunanetra tetap bisa berkarya, berkarier, dan berprestasi melalui olahraga.
"Setelah saya masuk Peparnas, mereka baru memahami. Ternyata tunanetra itu bisa juga berkarya, berkarier, ikut atlet, ikut olahraga," katanya.
Kini, dukungan dari keluarga semakin kuat. Orang tua Imam tidak lagi meragukan keputusannya untuk menekuni blind judo.
"Kalau sekarang orang tua bilang, ya sudah, kalau kamu ikut judo, ikut saja. Jadi tidak diragukan lagi," ucap Imam.
Imam juga pernah mengikuti seleksi Jawa Timur dan Peparnas Solo 2025. Ia masih terus berlatih dan berharap dapat meraih prestasi lebih tinggi. Target berikutnya adalah tampil di Peparnas 2028.
"Saya tetap berlatih. Harapannya ke depan semoga bisa meraih juara. Targetnya mungkin Peparnas 2028," ujarnya.
Bagi Imam, kehilangan penglihatan bukan alasan untuk berhenti menjalani kehidupan. Ia meyakini keterbatasan bukan akhir dari segalanya.
"Saya meyakini diri saya sendiri bahwa dengan kondisi saya saat ini, keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Saya harus bisa, saya harus bangkit, saya harus bisa semuanya," tegasnya.
Imam pun ingin pengalamannya menjadi motivasi bagi penyandang disabilitas lainnya, khususnya tunanetra yang masih merasa malu atau belum percaya diri. Ia juga berharap masyarakat dan keluarga memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka.
"Keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Kalau di dalam hati kita ada kemauan dan kita yakin bisa, insyaallah semua bisa," katanya.
Ke depan, Imam tidak hanya ingin mengejar prestasi pribadi. Ia berharap bisa ikut berkontribusi dalam menemukan dan membina bibit-bibit atlet disabilitas, terutama generasi muda yang masih malu atau belum mendapat kepercayaan dari keluarga.
"Harapan saya bisa lebih meningkatkan bibit-bibit atlet. Mungkin saya juga bisa berkontribusi kepada masyarakat untuk mencari bibit atlet baru yang masih muda, yang mungkin masih malu atau orang tuanya belum percaya dengan disabilitas," pungkas Imam.(ben)










