Sempat Ingin Menyerah, Imam Bangkit demi Anak hingga Jadi Atlet Blind Judo

Imam Bahroni pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Kehilangan penglihatan pada 2018 membuat pria yang saat itu berusia 28 tahun tersebut merasa terpuruk, malu bertemu orang lain, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
Senin, 24 Agustus 2026
Imam Bahroni pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Kehilangan penglihatan pada 2018 membuatnya merasa terpuruk, malu bertemu orang lain, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. (foto: Gilang/Kemenpora)

Kediri: Imam Bahroni pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Kehilangan penglihatan pada 2018 membuat pria yang saat itu berusia 28 tahun tersebut merasa terpuruk, malu bertemu orang lain, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.

Namun, kondisi itu perlahan berubah. Imam memilih bangkit demi keluarganya, terutama anaknya. Kini, ia menekuni olahraga blind judo dan masih tercatat sebagai atlet blind judo Kota Kediri.

Imam saat ini juga tengah menimba ilmu pijat (massage) di sebuah sekolah pijat di Malang. Ia bergabung dengan National Paralympic Committee (NPC) pada 2023 dan mulai menekuni blind judo pada awal 2024.

"Netra saya itu 2018, total 100 persen. Penyebabnya karena kelemahan saraf pada mata. Saat itu usia saya masih 28 tahun, sekarang 37 tahun," kata Imam saat ditemui pada ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Kota Kediri, Minggu (23/8).

Kehilangan penglihatan menjadi pukulan berat bagi Imam. Saat itu, ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.

"Saya sampai seperti mau menyerah. Saya malu bertemu orang. Setiap ada orang, saya malu. Saya banyak mengurung diri di kamar," ujarnya.

Titik balik Imam datang ketika ia menyadari harus melawan dirinya sendiri. Ia dihadapkan pada pilihan untuk terus terpuruk atau bangkit dan kembali berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Tantangan terbesar itu melawan diri sendiri. Apakah saya tetap terpuruk, tetap mengurung diri di kamar, atau saya harus bangkit dan bisa mencukupi keluarga saya, terutama anak saya," tuturnya.

Keputusan menekuni blind judo pada awalnya tidak langsung mendapat dukungan penuh dari keluarga. Orang tua Imam sempat khawatir dengan risiko yang mungkin dihadapi dalam olahraga tersebut.

Namun, pandangan keluarga berubah setelah Imam mengikuti ajang Peparnas di Solo pada 2025. Mereka melihat langsung bahwa penyandang tunanetra tetap bisa berkarya, berkarier, dan berprestasi melalui olahraga.

"Setelah saya masuk Peparnas, mereka baru memahami. Ternyata tunanetra itu bisa juga berkarya, berkarier, ikut atlet, ikut olahraga," katanya.

Kini, dukungan dari keluarga semakin kuat. Orang tua Imam tidak lagi meragukan keputusannya untuk menekuni blind judo.

"Kalau sekarang orang tua bilang, ya sudah, kalau kamu ikut judo, ikut saja. Jadi tidak diragukan lagi," ucap Imam.

Imam juga pernah mengikuti seleksi Jawa Timur dan Peparnas Solo 2025. Ia masih terus berlatih dan berharap dapat meraih prestasi lebih tinggi. Target berikutnya adalah tampil di Peparnas 2028.

"Saya tetap berlatih. Harapannya ke depan semoga bisa meraih juara. Targetnya mungkin Peparnas 2028," ujarnya.

Bagi Imam, kehilangan penglihatan bukan alasan untuk berhenti menjalani kehidupan. Ia meyakini keterbatasan bukan akhir dari segalanya.

"Saya meyakini diri saya sendiri bahwa dengan kondisi saya saat ini, keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Saya harus bisa, saya harus bangkit, saya harus bisa semuanya," tegasnya.

Imam pun ingin pengalamannya menjadi motivasi bagi penyandang disabilitas lainnya, khususnya tunanetra yang masih merasa malu atau belum percaya diri. Ia juga berharap masyarakat dan keluarga memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka.

"Keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Kalau di dalam hati kita ada kemauan dan kita yakin bisa, insyaallah semua bisa," katanya.

Ke depan, Imam tidak hanya ingin mengejar prestasi pribadi. Ia berharap bisa ikut berkontribusi dalam menemukan dan membina bibit-bibit atlet disabilitas, terutama generasi muda yang masih malu atau belum mendapat kepercayaan dari keluarga.

"Harapan saya bisa lebih meningkatkan bibit-bibit atlet. Mungkin saya juga bisa berkontribusi kepada masyarakat untuk mencari bibit atlet baru yang masih muda, yang mungkin masih malu atau orang tuanya belum percaya dengan disabilitas," pungkas Imam.(ben)

Bagikan:
Wamenpora RI Taufik Hidayat menyampaikan apresiasi atas kehadiran perwakilan klub olahraga dan atlet dalam Champions Stage by INA Sports pada ISS di JICC, Minggu (13/9) sore.(foto:raiky/kemenpora.go.id)
Minggu, 13 September 2026

Wamenpora Taufik Apresiasi Klub Olahraga dan Atlet Berbagi Kisah Menjadi Juara dalam Champions Stage ISS 2026

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) RI Taufik Hidayat mewakili Menpora Erick Thohir menyampaikan apresiasi atas kehadiran perwakilan klub olahraga dan atlet dalam Champions Stage by INA Sports pada Indonesia Sports Summit di Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (13/9) sore.

Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) menjalin kerja sama dengan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Minggu (13/9) siang. (foto:Herry/kemenpora.go.id)
Minggu, 13 September 2026

Satukan Dunia Olahraga dan Industri Kreatif, PSSI-PT LIB Jalin Kerja Sama dengan LMKN di Panggung ISS 2026

Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) menjalin kerja sama dengan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Minggu (13/9) siang. Kerja sama ini ditandai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dalam panggung Main Forum Indonesia Sports Summit 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 resmi berakhir di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Penutupan berlangsung meriah dengan penampilan Tulus yang sukses menghibur ribuan pengunjung. (dok.Gilang/Kemenpora)
Minggu, 13 September 2026

Penampilan Spektakuler Tulus Tutup Indonesia Sports Summit 2026 di JICC

Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 resmi berakhir di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Penutupan berlangsung meriah dengan penampilan Tulus yang sukses menghibur ribuan pengunjung.

Seorang atlet muda dari Special Olympics Indonesia (SOIna) Jakarta, Tasya, tampil dalam senam bersama tim sports dance yang ditampilkan pada festival olahraga disabilitas, salah satu rangkaian acara ISS 2026 di Jakarta (foto: Suci/Kemenpora
Sabtu, 12 September 2026

Lewat Sports Dance, Tasya Buktikan Disabilitas Bisa Berkontribusi bagi Indonesia

Seorang atlet muda dari Special Olympics Indonesia (SOIna) Jakarta, Tasya, tampil dalam senam bersama tim sports dance yang ditampilkan pada festival olahraga disabilitas, salah satu rangkaian acara Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta International Convention Centre (JICC). Ini merupakan kali pertama Tasya mengikuti kegiatan tersebut.

Saskia Mayesa, anak umur 4 tahun yang menginspirasi pada kegiatan Doa dan Makan Bersama Menpora Erick dan anak-anak panti asuhan dalam rangkaian acara Indonesia Sports Summit 2026.(dok.Suci/Kemenpora)
Jumat, 11 September 2026

Kehilangan Orang Tua di Usia 2 Tahun, Semangat Belajar Saskia Tak Pernah Padam

Saskia Mayesa, 4 tahun, yang dengan penuh percaya diri mampu melafalkan Surat Al-Fatihah di hadapan para tamu undangan pada kegiatan Doa dan Makan Bersama Menpora Erick dan anak-anak panti asuhan dalam rangkaian acara Indonesia Sports Summit 2026.

Menjadi atlet profesional bukan berarti harus mengesampingkan pendidikan. Justru, pendidikan menjadi bekal penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir. (foto: Bagus/Kemenpora
Kamis, 10 September 2026

Pesan Cokorda Raka untuk Anak Muda: Olahraga dan Pendidikan Harus Jalan Beriringan

Menjadi atlet profesional bukan berarti harus mengesampingkan pendidikan. Justru, pendidikan menjadi bekal penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir.

Saat banyak anak muda lebih akrab dengan isu viral di media sosial, Kenzie Sultan Ryvantya justru tertarik membicarakan pertahanan, keamanan, dan geopolitik.
Rabu, 02 September 2026

Kenzie Bawa Isu Hankam Lebih Dekat ke Anak Muda

Saat banyak anak muda lebih akrab dengan isu viral di media sosial, Kenzie Sultan Ryvantya justru tertarik membicarakan pertahanan, keamanan, dan geopolitik.

Menpora Erick Dampingi Presiden Prabowo Lepas 432 Atlet Indonesia ke Asian Games 2026
Rabu, 09 September 2026

Menpora Erick Dampingi Presiden Prabowo Lepas 432 Atlet Indonesia ke Asian Games 2026

Pelepasan ini menegaskan dukungan penuh negara kepada Tim Indonesia untuk memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama bangsa di Asian Games 2026.

Menpora Erick Hadiri Upacara Pengukuhan 430 Atlet Kontingen Indonesia yang Bertanding di Asian Games 2026
Rabu, 09 September 2026

Menpora Erick Hadiri Upacara Pengukuhan 430 Atlet Kontingen Indonesia yang Bertanding di Asian Games 2026

Pengukuhan ini menjadi penanda dimulainya perjuangan resmi Tim Indonesia di Asian Games 2026, sekaligus wujud komitmen bersama untuk menorehkan prestasi yang lebih baik dari edisi-edisi sebelumnya.

Kemenpora Gelar Upacara Memperingati Haornas Ke-43
Rabu, 09 September 2026

Kemenpora Gelar Upacara Memperingati Haornas Ke-43

Peringatan Haornas ke-43 menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama membangun budaya hidup aktif dan bugar sebagai bagian dari pembangunan nasional.

UPDATE INFORMASI

INSTAGRAM

FACEBOOK

Banner desktop ISS 2026 Banner mobile ISS 2026