Kisah Perjuangan Citra: Dari Jualan Kacang hingga Juara Karate
Jakarta: Sejak kecil, Citra harus menghadapi kehidupan yang penuh keterbatasan. Gadis 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, itu bahkan kehilangan sang ayah ketika usianya baru delapan tahun.
Ayah Citra meninggal dunia akibat penyakit diabetes. Kepergian sang ayah meninggalkan kesedihan mendalam bagi Citra yang dikenal sangat dekat dengan sosok ayahnya.
Meski demikian, sang ayah tetap memikirkan masa depan Citra. Sebelum meninggal, ia sempat menitipkan baju dan sepatu kepada sang ibu agar Citra tetap bisa bersekolah.
"Citra itu, waktu bapaknya meninggal, ia sedih karena dia lengket sama bapaknya," ujar Hajrah, ibu Citra, seperti dikutip pada Rabu (12/8).
Cobaan Citra tak berhenti setelah kehilangan ayah. Di sekolah, ia juga kerap menjadi sasaran perundungan karena kondisi ibunya yang merupakan penyandang disabilitas. Pengalaman tersebut membuat Citra merasa tidak nyaman untuk terus bersekolah.
Untuk menghindari perundungan sekaligus membantu perekonomian keluarga, Citra kemudian memilih berkeliling menjual kacang. Sementara itu, sang ibu bekerja sebagai penyapu masjid untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berbagai kondisi tersebut perlahan membuat Citra kehilangan rasa percaya diri. Kesempatannya untuk fokus belajar dan mengembangkan bakat pun ikut terhambat.
Perubahan mulai dirasakan Citra setelah ia bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan.
Di lingkungan baru itu, Citra mendapatkan dukungan dari teman-teman, wali asrama, hingga para tenaga pengajar. Dukungan tersebut membuatnya kembali bersemangat mengikuti kegiatan belajar.
Tak hanya belajar, Citra juga mendapat kesempatan mengembangkan bakatnya di bidang olahraga, khususnya karate. Ia menekuni olahraga tersebut hingga akhirnya berhasil meraih prestasi.
"Dia bilang, 'Mama saya ini dapatkan juara dua karate', lalu saya bilang alhamdulillah," tutur Hajrah dengan bangga.
Maysaroh, wali asuh Citra di SR Terintegrasi 67, turut bangga melihat perubahan tersebut. Menurutnya, Citra yang sebelumnya merasa rendah diri kini mulai mampu berinteraksi dengan teman-temannya dan menunjukkan kepercayaan diri.
"Alhamdulillah, setelah di sekolah rakyat, Citra sudah mampu berinteraksi dengan teman-temannya dengan baik. Dan Citra juga memperlihatkan beberapa bakat, termasuk karate, yang sekarang Citra berprestasi dalam bidang itu," jelas Maysaroh.
Bagi Citra, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat untuk kembali belajar. Lingkungan tersebut juga menjadi ruang baginya untuk menemukan kembali kepercayaan diri dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sebagai bentuk rasa syukur, Citra menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas hadirnya Sekolah Rakyat yang memberinya kesempatan untuk kembali bersekolah tanpa harus mengalami perundungan seperti sebelumnya.
"Halo Pak Presiden, terima kasih telah membuat Sekolah Rakyat, sehingga Citra bisa bersekolah lagi di Sekolah Rakyat, sehingga tidak ada yang mem-bully saya di sini," ujar Citra.(BakomRI/ben)










