Kemenpora Tegaskan Komitmen Dukung Atlet Disabilitas, Tanggapi Aksi Galang Dana Atlet Tunarungu
Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dan memfasilitasi pembinaan atlet disabilitas di seluruh Indonesia. Pernyataan ini merespons narasi yang sempat viral terkait atlet tunarungu yang menggalang dana mandiri guna mengikuti kejuaraan internasional.
Plt. Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Budi Ariyanto Muslim, menyampaikan mekanisme penyaluran pendanaan negara. Berdasarkan Undang-Undang Keolahragaan, pendanaan APBN hanya dapat disalurkan kepada organisasi yang secara resmi diakui oleh induk federasi internasional masing-masing.
Kemenpora, kata Budi, mengikuti dan mencatat mengenai rencana keberangkatan atlet tuna rungu ke Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championship 2026 di Penang. Rencana kepergian itu diorganisir oleh Perhimpunan Olahraga Tuna Rungu Indonesia (Porturin).
Sementara, terkait status organisasi, khusus untuk atlet tuna rungu, maka secara internasional federasinya adalah International Committee of Sports for the Deaf (ICSD). Di Indonesia, organisasi yang diakui oleh ICSD adalah Indonesian Association of the Deaf Athlete atau Patrin.
"Berdasarkan aturan, hanya organisasi olahraga yang merupakan anggota federasi cabor internasional yang diakui dan bisa mendapatkan pendanaan dari pemerintah," ujarnya di Jakarta, Selasa (1/9).
Oleh karenanya, Budi menyayangkan narasi yang berkembang. Diharap seluruh pihak dapat mendukung pengembangan olahraga di Tanah Air, termasuk atlet disabilitas. Ditegaskan, Kemenpora terus berkomitmen untuk memperkuat tata kelola bersama NPC Indonesia.
"Tentu kami akan melakukan evaluasi secara objektif dan menyeluruh dengan berpedoman anggaran dasar ICSD serta peraturan perundang-undangan yang berlaku," jelasnya.
Sementara, Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, menambahkan pemerintah bersama NPC Indonesia secara konsisten memberikan dukungan penuh terhadap pembinaan olahraga disabilitas. Misalnya pembangunan fasilitas latihan olahraga Paralympic Training Center Indonesia di Jawa Tengah.
"Pemerintah juga memberikan dukungan finansial pengiriman atlet di ajang ASEAN Para Games atau Asian Para Games. Bahkan juga penambahan bonus yang ditransfer langsung kepada para atlet yang berprestasi melalui kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia," pungkasnya. (jef)










