Kemenpora Gelar Pelatihan Penggerak Guru PJOK di Malang: Fokus Petakan Bakat Siswa dan Dorong Partisipasi Aktif
Malang: Potensi anak di bidang olahraga perlu dipetakan sejak dini agar bakat unggul tidak terlewat. Namun, pembinaan yang tepat tidak berhenti pada identifikasi bakat, melainkan juga mendorong partisipasi aktif dan penguatan fondasi gerak pada tahap fundamental. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memfasilitasi 70 guru olahraga di Malang agar tidak hanya menguasai tes identifikasi bakat berbasis Manajemen Talenta Nasional (MTN), tetapi juga dibekali kompetensi pedagogis untuk menerapkan konsep Fun and Active Multilateral Movement (FAMM) guna menstimulasi literasi fisik anak. Program yang digelar di Stadion Gajayana ini langsung dipraktikkan kepada 100 siswa dari tiga sekolah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari aktualisasi pelatihan yang diberikan Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga Kemenpora kepada para guru PJOK. Melalui pelatihan ini, guru dibekali kemampuan untuk mengenali minat, karakteristik, dan potensi olahraga siswa melalui sejumlah tes dan perangkat identifikasi bakat.
Akademisi sekaligus sport scientist Universitas Negeri Surabaya, Donny Ardy Kusuma, mengatakan guru PJOK memiliki posisi strategis dalam menemukan calon atlet karena berinteraksi langsung dengan siswa di lingkungan sekolah.
“Kami percaya betul bahwa guru PJOK, begitu kita menyebutnya guru olahraga, sebagai ujung tombak prestasi masa depan olahraga Indonesia. Kenapa bisa begitu? Karena calon-calon juara lahir dari sekolah. Calon-calon juara atlet masa depan Indonesia lahir dari tangan mereka. Merekalah yang pertama menemukan.”
Selain mengidentifikasi potensi, pendekatan yang diberikan dalam pelatihan juga menempatkan penguatan kemampuan gerak dasar dan pengalaman olahraga yang menyenangkan sebagai bagian penting dalam perkembangan anak. Melalui konsep FAMM, guru didorong menciptakan aktivitas gerak yang beragam, aktif, dan menyenangkan sehingga anak memiliki fondasi gerak yang baik sebelum diarahkan lebih spesifik pada cabang olahraga tertentu.
Hasil pemetaan potensi siswa selanjutnya diarahkan untuk dapat terintegrasi dengan sistem Satu Data Kemenpora. Dengan demikian, data yang diperoleh dari sekolah dapat menjadi bagian dari informasi pendukung dalam proses identifikasi dan pembinaan talenta olahraga secara lebih terstruktur.
Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenpora, Angga Prananda Bakti, mengatakan kemampuan yang diperoleh guru diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan masing-masing.
“Harapan kami para guru olahraga yang sudah melakukan pelatihan ini bisa mengembangkan dan melakukan tes ini di lingkup sekolah, komunitas, dan organisasi yang mereka ikuti sehingga bisa mencari bibit-bibit bakat yang baik lalu disalurkan di ekskul-ekskul yang mereka bina.”
Dengan penerapan tersebut, siswa yang menunjukkan potensi tertentu dapat memperoleh rekomendasi yang lebih tepat untuk mengembangkan kemampuannya, baik melalui kegiatan ekstrakurikuler, klub olahraga, maupun jalur pembinaan pemerintah daerah.
Bagi Lulut Rosvita, guru PJOK SMP Negeri 5 Malang, pelatihan tersebut memberikan pendekatan baru dalam memahami potensi siswa. Selama ini, pilihan siswa terhadap cabang olahraga lebih banyak dipengaruhi kesukaan pribadi atau teman. Hasil pemetaan memberikan dasar yang lebih objektif bagi guru dalam memberikan rekomendasi.
“Jadi, yang mungkin anak tersebut sebelumnya memilih olahraga bola basket, tetapi berdasarkan LMS yang dia kerjakan, itu dia arahnya ke permainan bola voli.”
Lulut berkomitmen membawa pengetahuan tersebut ke sekolah agar siswa dapat memperoleh arahan yang lebih sesuai dengan potensi dan karakteristiknya.
“Yang pertama, saya berusaha memetakan kondisi murid saya untuk mengarahkan mereka supaya tidak salah sasaran.”
Di sisi lain, pengembangan talenta olahraga juga perlu berjalan beriringan dengan terciptanya lingkungan masyarakat yang mendorong gaya hidup aktif. Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora, Yayat Suyatna, mengatakan pemerintah pusat terus mendorong pemerintah daerah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berolahraga, salah satunya melalui penyelenggaraan Car Free Day Olahraga.
“Kami Kemenpora sudah bekerja sama dengan Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri). Kemendagri sudah mengeluarkan surat edaran, di mana ada poin penting bahwa daerah itu harus menyelenggarakan Car Free Day Olahraga.”
Menurut Yayat, masyarakat yang aktif dan bugar akan memberikan dampak positif terhadap produktivitas, termasuk bagi anak-anak sekolah maupun pekerja.
“Kalau sudah sehat, kalau sudah bugar, berarti kita akan produktif. Anak-anak sekolah akan rajin, semangat belajarnya, para pekerja akan lebih produktif, sehingga cost kesehatan (BPJS) bisa turun.”
Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan olahraga membutuhkan ekosistem yang berjalan sinergis dari hulu ke hilir. Anak-anak perlu dipetakan potensinya sejak di bangku sekolah, sementara masyarakat dan ekosistem pendidikan juga harus memastikan mereka tetap aktif dan gembira dalam bergerak. Dari sana, potensi olahraga dapat diarahkan ke pembinaan lanjutan yang lebih terstruktur.
Kemenpora berharap, model identifikasi bakat yang dikombinasikan dengan penguatan literasi fisik ini dapat terus dikembangkan menjadi sistem pembinaan nasional yang diterapkan di seluruh daerah. (Uc)










