72 Tenaga Klasifier Dinyatakan Lulus, Modal Pemerataan Pengembangan Olahraga Disabilitas di Indonesia
Solo: Sebanyak 72 peserta resmi mendapatkan sertifikasi untuk menjadi tenaga klasifikasi olahraga disabilitas di Indonesia. Para peserta dinyatakan lulus menjadi klasifier disabilitas fisik setelah dilakukan dua pelatihan di Karanganyar dan Makassar.
Total ada 77 peserta dari 28 provinsi yang mengikuti pelatihan klasifikasi olahraga disabilitas tingkat nasional untuk kategori disabilitas fisik. Kegiatan yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) bersama National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia) ini terbagi untuk wilayah Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.
45 peserta untuk wilayah Indonesia bagian barat telah menjalani pelatihan di Kota Solo pada 19-22 Mei 2026 lalu. Seluruh peserta dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikasi untuk menjadi tenaga klasifikasi olahraga disabilitas kategori disabilitas fisik.
Sementara untuk wilayah Indonesia bagian timur digelar di Kota Makassar pada 29 Juni - 2 Juli 2026. Total, ada 32 peserta dari sebelas provinsi yang mengikuti pelatihan tahap kedua ini. Dari jumlah tersebut, 27 peserta dinyatakan lulus sebagai seorang klasifier olahraga disabilitas fisik.
Indonesia pun kini memiliki 72 tenaga klasifikasi olahraga disabilitas fisik baru. Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia, mengatakan kehadiran 72 tenaga tersertifikasi tersebut menjadi harapan baru dalam pemerataan pengembangan olahraga disabilitas.
"Output dari kegiatan ini, kami ingin ada tenaga klasifier baru yang berkompeten untuk melakukan klasifikasi di daerah-daerah, khususnya daerah yang belum ada klasifier tersertifikasi, sehingga ada pemerataan di setiap provinsi untuk memiliki klasifier olahraga disabilitas," kata Leny Kurnia, Kamis (2/7).
Kehadiran tenaga klasifikasi olahraga disabilitas, termasuk kategori disabilitas fisik, sangat penting dalam mengejar prestasi level internasional. Chief Classifier NPC Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa para atlet wajib lolos proses klasifikasi untuk bisa mengikuti pertandingan.
Pemerataan tenaga klasifikasi memberikan peluang bagi setiap penyandang disabilitas di daerah untuk menjadi seorang atlet. Mereka bisa diarahkan sesuai potensi cabang olahraga serta nomor pertandingan yang bisa diikuti.
"Kita menghadapi tantangan, dengan luasnya wilayah Indonesia, masih sedikit kesadaran masyarakat di daerah bahwa para penyandang disabilitas juga bisa berprestasi. Klasifikasi menjadi hal yang sangat penting dalam olahraga disabilitas karena menjadi pondasi untuk pertandingan yang setara, sehingga tidak ada pertandingan tanpa proses klasifikasi," jelas Retno.
"Dengan adanya pelatihan di Makassar ini, diharapkan akan ada klasifier baru yang bisa membantu untuk memberikan klasifikasi di daerahnya masing masing, sehingga calon atlet yang direkrut sudah memiliki, atau paling tidak penempatan yang mendekati dalam perkiraan sport class. Dengan begitu, ketika akan dibina olah daerahnya, sport class dari calon atlet tersebut tidak meleset terlalu jauh. Ini hal yang baik dalam mencari bibit-bibit atlet baru karena kita harus mempersiapkan Paralympic 2028," imbuhnya.
*Berharap Pelatihan Spesifik*
Sementara itu, salah satu peserta dari provinsi Bali, dr. Made Dwi Puja Setiawan, Sp. K.F.R., M.Ked.Klin. AIFO-K. merasa senang bisa menjadi bagian dari pelatihan klasifikasi olahraga disabilitas ini. Ia banyak mendapatkan ilmu-ilmu baru yang berguna dalam proses klasifikasi atau pengelompokkan atlet penyandang disabilitas.
"Menurut saya, pelatihan ini sangat penting untuk diberikan kepada tenaga klasifier dan disebar ke semua daerah karena tidak mungkin penyandang disabilitas hanya terpusat di kota-kota besar saja. Penyandang disabilitas di semua daerah memerlukan tenaga untuk mengklasifikasikan seorang atlet disabilitas, cocoknya kemana gitu, sehingga bisa menjangkau atlet lebih banyak dan variasi atlet yang dijangkau juga menjadi lebih banyak," ucap Made Puja.
Made Puja berharap, setelah kegiatan di Makassar rampung, akan ada pelatihan lagi, terutama yang spesifik ke cabang olahraga tertentu. Dengan begitu, peran tenaga klasifikasi olahraga disabilitas bisa lebih maksimal karena memiliki ilmu-ilmu baru.
"Harapannya pelatihan ini bisa berkesinambungan, dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan yang lainnya, juga ketika ada update-update ilmu yang berkembang secara internasional bisa disampaikan ke semua daerah," ucap Made Puja.(NPC Indonesia/amr)










