Kenalan dengan Aisha Putri Safrianty, Menjadi Inspirasi Memberi Semangat dan Dampak Nyata Literasi untuk Anak Negeri
Jakarta: Aisha Putri Safrianty adalah seorang mahasiswa berprestasi dari Universitas Indonesia (UI) yang aktif di berbagai forum kepemudaan baik nasional maupun internasional. Ia juga peneliti muda dan aktivis hak-hak anak.
Aisha mulai dikenal luas atas dedikasinya di bidang literasi, perlindungan anak dan advokasi sosial. Kegemaran membaca yang tumbuh sejak kecil menjadikan literasi sebagai pintu masuk keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kepemudaan.
Aisha yang menjadi Duta Baca DKI Jakarta 2026 ini menilai, pemuda perlu dilibatkan secara bermakna sehingga dapat memberikan suara baru, orisinal, sehingga dapat membantu dalam mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif.
Di tengah masyarakat, banyak orang meragukan kemampuan anak sosial, serta jurusan yang diambilnya sebab tidak memiliki prestise dibandingkan jurusan lainnya.
Usahanya menggagas literasi pun kerap mendapatkan penolakan sehingga membuat dirinya ingin menyerah. Ia juga percaya setiap orang memiliki waktu terbaiknya sendiri. Ketika satu pintu tertutup, Ia percaya Tuhan akan membuka jalan lainnya yang telah disiapkan.
Dari pengalaman yang dimiliki, Aisha yang menjadi Duta Bahasa DKI Jakarta 2024 ini ingin membuka lebih banyak ruang belajar untuk anak-anak. Melalui membaca nyaring, mereka diajak mencintai buku sambil mengasah imajinasi dan mengasah kreatifitas.
Dari kegemarannya membaca, ia dipercaya menjadi Delegasi Indonesia di ASEAN Youth United for Road Safety 2026. Disana selama tiga hari kegiatan seluruh delegasi dilibatkan dalam perumusan kebijakan untuk melatih pemikiran kritis khususnya mengenai keselamatan jalan di kawan ASEAN.
Dari literasilah ia juga memberi kontribusi nyata ditengah masyarakat yang bisa dijadikan sebagai inpsirasi dan teladan. Ia bersama para akademisi dari UI melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan melakukan tindak pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui pendekatan literasi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) Indonesia khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Implementasi tersebut dilakukan dengan menerbitkan buku cerita yang diterapkan kepada lebih dari 150 anak pada dua sekolah di Ende, NTT. Buku cerita tersebut memuat pendidikan seksualitas yang komprehensif, bahasa yang ramah anak dan dekat dengan budaya sekitar.
Melalui jalur literasi, Aisha membuktikan bahwa apapun latar belakang pendidikannya, setiap bidang memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
"Saya percaya generasi muda Indonesia lebih diapresiasi dan diberikan wadahnya tanpa ada kata 'kecuali', tanpa dikriminasi, dan tanpa ada rasa takut atau ragu. Maka teruslah bergerak dan bersinar melalui cahayamu sendiri, teman-teman," ujar dara yang terlibat aktif dalam Korea-Indonesia Youth Collaboration Program ini.(ben)










