Jelang 100 Tahun Sumpah Pemuda, David Chua Dorong Pemuda Indonesia-Singapura Perkuat Kolaborasi Tak Sekadar Saling Memahami
Jakarta: Hubungan Indonesia dan Singapura di masa depan tidak cukup hanya dibangun melalui saling mengenal. Generasi muda kedua negara perlu melangkah lebih jauh, yakni menumbuhkan empati, menyelaraskan perspektif, dan memperkuat kolaborasi untuk menjawab berbagai tantangan bersama.
Pesan tersebut disampaikan Chief Executive Officer National Youth Council (NYC) Singapore, David Chua, dalam wawancara mengenai Singapore-Indonesia Youth Leadership Exchange Programme (SIYLEP) di ruang Seni Rupa, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Rabu (28/10).
“Program SIYLEP penting untuk menjaga hubungan di antara anak muda kita. Mereka perlu memiliki hubungan ini agar kedua negara dapat saling memahami dan berkembang, terutama para pemimpin muda,” ujar David.
Menurutnya, program pertukaran pemuda ini memiliki peran penting dalam menjaga hubungan antargenerasi muda kedua negara, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya pemimpin masa depan yang mampu bekerja sama lintas negara.
Ia berharap, ketika Indonesia memperingati 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028, hubungan pemuda Indonesia dan Singapura telah berkembang menjadi lebih kuat. Bukan sekadar memahami kondisi masing-masing negara, melainkan juga memiliki empati terhadap persoalan yang dihadapi satu sama lain.
David menilai, kedekatan tersebut perlu diwujudkan melalui kemampuan menjembatani perbedaan, menyelaraskan tujuan, dan membangun kapasitas untuk berkolaborasi secara efektif.
Harapan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan bilateral tidak hanya bergantung pada kesepakatan antarpemerintah. Interaksi dan persahabatan antarpemuda juga menjadi fondasi penting untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan.
Bagi David, salah satu langkah penting untuk memperkuat kerja sama di bidang pengembangan pemuda adalah menjaga rasa ingin tahu terhadap satu sama lain.
Menurutnya, generasi muda perlu terus menggali pemahaman tentang kehidupan, tantangan, dan perspektif masyarakat di negara tetangga. Dari proses tersebut, mereka dapat menemukan persoalan yang memiliki kesamaan sekaligus merumuskan solusi yang bermanfaat bagi kedua negara.
“Ada banyak bidang yang dapat kita perkuat di antara anak muda. Namun, yang paling penting adalah tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap satu sama lain dan mampu menemukan solusi bersama yang dapat membantu kedua negara,” katanya.
Pandangan tersebut relevan di tengah perubahan dunia yang menuntut generasi muda untuk mampu beradaptasi, berpikir terbuka, dan membangun jejaring lintas batas. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang, tetapi dapat menjadi sumber perspektif baru dalam mencari solusi.
Melalui SIYLEP, peserta dari Indonesia dan Singapura memiliki kesempatan untuk bertukar pengalaman, mengenali perspektif yang berbeda, serta membangun hubungan yang dapat dikembangkan menjadi kolaborasi nyata.
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, semangat persatuan yang menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia juga dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat hubungan dengan negara tetangga.
David menekankan pentingnya menjaga hubungan dan meningkatkan kerja sama antarpemuda. Ia merangkum pesan tersebut melalui ungkapan sederhana dalam bahasa Indonesia.
“Seperti yang kita katakan dalam program SIYLEP ini, kita ingin lebih bersama. Jadi, mari kerja bersama dengan lebih baik,” tuturnya.
Pesan tersebut menempatkan semangat kebersamaan sebagai landasan bagi hubungan Indonesia dan Singapura ke depan. Bagi generasi muda, kebersamaan bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan kemampuan untuk saling menghargai dan menemukan tujuan yang dapat diperjuangkan bersama.
Momentum 100 tahun Sumpah Pemuda pun dapat menjadi kesempatan untuk memperluas makna persatuan melalui dialog, kepemimpinan kolaboratif, dan kerja sama lintas negara.
David juga menyambut positif keikutsertaan peserta SIYLEP dalam kegiatan Indonesia Youth Summit 2026. Menurutnya, kesempatan tersebut memungkinkan para peserta tidak hanya berinteraksi dengan sesama delegasi, tetapi juga bertemu dengan masyarakat dari beragam latar belakang di Indonesia.
“Saya pikir sangat baik para peserta SIYLEP hadir di Youth Summit karena mereka tidak hanya bertemu satu sama lain, tetapi juga bertemu orang-orang dari berbagai bagian masyarakat Indonesia, pemerintah, dan masyarakat sipil. Saya berharap pengalaman itu memperkaya perspektif mereka,” ujar David.
Pertemuan lintas latar belakang tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Pengalaman ini juga dapat memperkaya cara mereka memahami kepemimpinan dan merancang kerja sama di masa mendatang.
Melalui rangkaian kegiatan SIYLEP dan partisipasi dalam Indonesia Youth Summit, hubungan pemuda Indonesia dan Singapura diharapkan semakin erat. Lebih dari sekadar pertukaran pengalaman, interaksi tersebut menjadi langkah untuk menumbuhkan generasi muda yang terbuka, berempati, dan siap berkolaborasi.
Menjelang 2028, semangat lebih bersama dan kerja bersama menjadi pesan penting bahwa masa depan hubungan kedua negara tidak hanya dibangun oleh generasi saat ini, tetapi juga oleh pemuda yang terus belajar memahami dan menguatkan satu sama lain.(ben)










