Baru Lulus SMA, Peserta WYC 2026 Raffi dari Malinau Sudah Bicara Isu Hutan di COP29 Baku, Azerbaijan
Jakarta: Baru lulus SMA pada 2026, Raffi Abya Saputra sudah punya pengalaman yang tak biasa bagi anak seusianya. Pemuda asal Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara itu pernah menjadi pembicara di Paviliun Indonesia dalam konferensi iklim COP29 di Baku, Azerbaijan.
Kini, pemuda 3 LoA LN dan Awardee Beasiswa Garuda ini membawa semangat pendidikan ekologis ke Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 untuk memperluas dampak gerakan pemuda di daerahnya.
Bagi Raffi, usia muda bukan alasan untuk menunggu sebelum berkontribusi. Melalui komunitas Green Youth Movement, ia aktif mendorong pendidikan ekologis di sejumlah satuan pendidikan, terutama bagi pelajar SMA dan pemuda setelah jenjang tersebut.
Prinsip yang dipegangnya sederhana: seseorang perlu memahami persoalan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.
“Bagaimana mau bertindak kalau dasarnya saja tidak tahu? Dasar pemikiran logisnya kenapa saya harus bertindak tidak ada,” ujar Rafi saat ditemui dalam rangkaian WYC 2026 di Artotel Hotel, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (24/10).
Menurutnya, pendidikan ekologis menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap persoalan lingkungan. Namun, pengetahuan saja tidak cukup. Anak-anak muda yang memiliki potensi juga perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan diri dan mewujudkan gagasannya.
Pengalaman mengikuti workshop dan talkshow bersama komunitasnya membuat Raffi melihat bahwa banyak pemuda sebenarnya memiliki kemampuan untuk berkontribusi. Persoalannya, tidak semua memiliki wadah untuk menyalurkan potensi tersebut.
Karena itu, Green Youth Movement tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga mendorong anak-anak muda agar berani mengambil peran dan terlibat dalam gerakan lingkungan.
"Dalam sejumlah kegiatan, kami menemukan individu yang terlihat berpotensi untuk berkembang dan berkontribusi, tetapi belum punya medium untuk bertindak. Karena itu, kami berusaha memberdayakan potensi-potensi tersebut," tutur peringkat 1 Kabupaten dan 2 Provinsi OSN Matematika SMA 2024 ini.
Perjalanan Raffi dalam isu lingkungan membawanya ke pengalaman internasional saat mengikuti COP29 di Azerbaijan. Ia terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia melalui jalur komunitas dan mendapat kesempatan berbicara di Paviliun Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Raffi bersama delegasi lainnya membahas persoalan lingkungan yang dekat dengan aktivitas komunitasnya. Salah satu isu yang ia angkat adalah kehutanan atau forestry.
Bagi pemuda asal Malinau ini, pengalaman tersebut bukan sekadar kesempatan mengunjungi negara baru. Ia juga bisa belajar mengenai isu lingkungan dari perspektif yang lebih luas sekaligus menyampaikan gagasan anak muda Indonesia di forum internasional.
Selama sekitar lima hari di Azerbaijan, aktivitasnya berlangsung padat, dari pagi hingga malam. Meski melelahkan, pengalaman itu memberinya pelajaran baru tentang pentingnya membawa persoalan lokal ke dalam percakapan global.
Kini, melalui WYC 2026, Raffi ingin memperluas bekal dan jejaringnya agar pengalaman yang diperoleh tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi komunitas yang ia dampingi.
Menjadi salah satu peserta WYC 2026 juga menghadirkan tantangan tersendiri baginya. Di tengah peserta yang memiliki latar belakang beragam, mulai dari mahasiswa, aktivis organisasi kampus, hingga mereka yang sudah bekerja, ia menjadi salah satu peserta yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA.
Semifinalis Olimpiade Matematika SMA 2023 dari Unsri dan Sebelas Maret ini, mengaku sempat merasa insecure ketika melihat pengalaman peserta lainnya. Namun, ia mencoba mengubah perasaan tersebut menjadi energi untuk belajar.
"Jujur, pertama cukup insecure. Itu pasti normal. Tapi saya mencoba mengonversi rasa insecure itu menjadi sebuah energi,” katanya.
Ia kemudian menyadari bahwa perbedaan usia dan pengalaman justru dapat menjadi kekuatan. Jika peserta lain membawa perspektif dari dunia perkuliahan, organisasi, dan pekerjaan, dirinya hadir dengan sudut pandang seorang lulusan SMA yang masih dekat dengan pengalaman pendidikan di tingkat sekolah.
"Justru karena saya satu-satunya yang baru lulus SMA, pandangan saya itu unik. Kalau yang lain mungkin punya pandangan setelah kuliah atau dalam konteks pekerjaan, saya datang dari perspektif pendidikan dan baru lulus SMA. Sudut pandangnya pasti unik, baru, dan lebih fresh," ujarnya.
WYC 2026 menjadi kesempatan untuk belajar langsung dari pemuda-pemuda yang telah lebih dahulu menempuh perjalanan di bidang organisasi dan kepemimpinan. Ia ingin memahami cara membangun organisasi, mengelola tim, serta mengembangkan kolaborasi agar dapat diterapkan dalam gerakan pemuda di daerahnya.
Dirinya menyadari bahwa perjalanan yang ditempuhnya masih panjang. Pengalaman menjadi pembicara di forum internasional dan keterlibatannya dalam gerakan lingkungan menjadi modal awal, tetapi ia merasa masih perlu banyak belajar untuk memperluas kontribusi.
Salah satu tujuan utamanya mengikuti WYC 2026 adalah membangun jejaring dengan sesama pemuda, baik dari Kalimantan Utara, wilayah lain di Pulau Kalimantan, maupun berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap pertemuan tersebut membuka peluang kolaborasi yang bisa memperkuat gerakan pemuda dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
“Usia saya sekarang masih sangat awal. Saya masih punya perjalanan panjang untuk bisa berdampak lebih luas. Saya ingin belajar banyak dari kakak-kakak dan teman-teman di sini, terutama bagaimana mereka berorganisasi,” ucapnya.
Setelah menjalani beberapa hari kegiatan, Raffi mengaku merasakan berbagai emosi, mulai dari bahagia, serius menyerap materi, lelah, hingga kembali bersemangat. Namun, seluruh pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses pendewasaan dirinya.
Ada satu tujuan yang ingin ia bawa pulang dari Jakarta: menjadi pribadi yang lebih matang agar mampu memimpin komunitasnya dengan lebih baik.
“Saya ingin memimpin mereka dalam skala yang lebih baik, sehingga dampak yang diberikan bisa lebih optimal dan maksimal,” katanya.
WYC 2026 bukan sekadar pertemuan pemuda dari berbagai daerah. Ini adalah ruang untuk bertumbuh, menguji keberanian, dan belajar dari pengalaman orang lain sebelum kembali ke daerah dengan bekal yang lebih kuat.
Dari Malinau, ia membawa semangat pendidikan ekologis. Dari COP29, ia membawa pengalaman menyuarakan isu lingkungan di panggung internasional. Sementara dari WYC 2026, ia berharap membawa pulang sesuatu yang tak kalah penting: kemampuan memimpin dan memperluas gerakan agar semakin banyak anak muda berani mengambil peran dalam perubahan.(ben)










