Wirasena Youth Camp 2026 Ajak Pemuda Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Nyata
Jakarta: Sebuah gagasan untuk membantu anak-anak untuk belajar bisa berkembang menjadi upaya memahami persoalan sosial yang jauh lebih kompleks. Itulah salah satu hal menarik yang ditemukan dalam proses pengembangan ide peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, khususnya saat mereka diajak menguji kekuatan gagasan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Fasilitator WYC 2026, Lutfia Nurul Atika, mengungkapkan bahwa salah satu peserta dari Papua Selatan awalnya ingin mengangkat isu pendidikan melalui kegiatan mengajar matematika. Namun, setelah menelusuri persoalan di lapangan, peserta tersebut menemukan sejumlah masalah lain yang saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan lebih menyeluruh.
“Awalnya dia mau mengajar matematika, tapi ternyata setelah peserta ini ke lapangan, isunya jadi lebih berat lagi,” ujar Tika saat menceritakan pengalaman mendampingi peserta dalam sesi Menguji Kekuatan Ide, di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Sabtu (24/10).
Dalam proses penelusuran, peserta menemukan fenomena anak-anak yang berbuat hal-hal tertentu yang tidak baik. Upaya memahami fenomena itu kemudian membuka persoalan lain, mulai dari tantangan membangun kesadaran anak-anak hingga masalah sosial yang berkaitan dengan pernikahan dini.
Temuan tersebut membuat gagasan yang semula berfokus pada pembelajaran matematika berkembang menjadi upaya edukasi yang lebih luas bagi generasi muda. Bagi Tika, pengalaman itu menunjukkan pentingnya melihat persoalan masyarakat secara lebih mendalam sebelum menentukan bentuk intervensi.
Sebuah masalah yang terlihat sederhana di permukaan belum tentu memiliki akar persoalan yang sederhana pula. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya diminta menyusun ide dan gagasan, tetapi juga menguji apakah rancangan tersebut benar-benar mampu menjawab persoalan yang ingin diselesaikan.
Tika menjelaskan, peserta diajak mengidentifikasi blind spot atau aspek yang mungkin luput dari perhatian, menguji asumsi yang mendasari gagasan, serta memperhitungkan risiko dan konsekuensi dari program yang dirancang.
Dengan proses tersebut, peserta diharapkan tidak terburu-buru mengeksekusi ide sebelum memahami kondisi masyarakat yang menjadi sasaran program.
"Teman-teman sebelumnya sudah membuat rancangan ide dan gagasan. Di sini kita dituntut untuk melihat blind spot, hal-hal yang mungkin dilupakan, seperti asumsi-asumsi apa yang perlu diuji, lalu risiko yang mungkin terjadi dan juga konsekuensi," kata Tika.
Menurutnya, peserta menunjukkan keaktifan yang baik selama mengikuti proses pembelajaran. Meski materi yang diberikan cukup banyak dan waktu diskusi terbatas, antusiasme peserta dalam menyampaikan gagasan dan berbagi persoalan dari daerah masing-masing menjadi hal positif.
Beragam persoalan yang dibawa peserta juga memperlihatkan bahwa anak muda memiliki kepedulian terhadap kondisi di lingkungan sekitarnya. Tantangannya adalah memastikan kepedulian tersebut berkembang menjadi program yang tepat sasaran dan dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Dari pengalaman peserta Papua Selatan tersebut, Tika menilai persoalan pendidikan dan sosial membutuhkan perhatian serta dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Ia berharap edukasi mengenai kesehatan seksual serta perlindungan dari kekerasan dan pelecehan seksual dapat menjangkau lebih banyak generasi muda, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Dalam WYC 2026, peserta juga memperoleh materi PSEH (Protection from Sexual Exploitation and Harassment), yang dapat menjadi bekal untuk memperluas pemahaman mengenai perlindungan dari eksploitasi dan pelecehan seksual. Materi ini diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan selama kegiatan, tetapi dapat diterapkan dan disebarluaskan melalui kontribusi peserta di daerah masing-masing.
Tika juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan program sosial yang dijalankan anak muda. Menurutnya, kegiatan pengabdian seharusnya tidak hanya berorientasi pada dokumentasi atau publikasi, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya bisa berkelanjutan. Jadi, tidak hanya untuk sekali datang, take content, lalu selesai dan pulang,” tegasnya.
Baginya, keberhasilan sebuah program bukan semata-mata dilihat dari terlaksananya kegiatan, melainkan dari manfaat yang dirasakan masyarakat serta kemungkinan program tersebut terus berjalan setelah inisiatornya meninggalkan lokasi.
Tika sendiri memiliki latar belakang pendidikan Hubungan Internasional dan saat ini bekerja di sektor manufaktur. Keterlibatannya sebagai fasilitator WYC 2026 berangkat dari pengalamannya mengikuti program Indonesia-China Youth Leadership Training Program yang diselenggarakan Kemenpora pada 2025.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu penghubungnya dengan program pengembangan kepemimpinan pemuda. Ia menilai WYC 2026 menjadi ruang yang menarik karena mempertemukan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang, pengalaman, dan persoalan yang beragam.
Ia berharap program ini dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak anak muda mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan gagasan dan memperluas kontribusinya.
“Harapannya setelah mengikuti ini, teman-teman bisa mengimplementasikan segala ilmu yang sudah didapat. Untuk pemuda Indonesia, tetap aware dengan lingkungan sekitar dan semangat untuk berkontribusi. Walaupun itu kecil, pasti juga akan bermakna untuk lingkungan,” tuturnya.
Melalui proses menguji gagasan, WYC 2026 mendorong peserta untuk tidak hanya datang membawa ide, tetapi juga pulang dengan pemahaman yang lebih utuh tentang persoalan yang ingin mereka selesaikan. Perubahan yang berdampak tidak cukup berawal dari niat baik, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk menggali akar masalah, kesediaan belajar, dan komitmen untuk terus mendampingi masyarakat.(ben)











