Lihat Anak di Sekitarnya Jadi Korban Kekerasan, Kholik Bawa Misi Lawan Bullying ke Wirasena Youth Camp 2026
Jakarta: Melalui Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, Abdul Kholik Fauzi tergerak untuk menghadirkan perubahan. Berawal dari keresahan melihat anak-anak dan remaja di lingkungan sekitarnya menjadi korban kekerasan.
Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman ini mematangkan gagasan untuk membangun ruang aman bagi anak sekaligus menyatukan potensi pemuda di daerahnya, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Bagi Kholik, persoalan bullying dan kekerasan terhadap anak bukan sekadar isu yang dibaca dalam laporan atau statistik. Ia melihat dampaknya secara langsung di lingkungan tempatnya tumbuh, termasuk anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk berkembang karena menghadapi kekerasan dan tekanan sosial.
Pengalaman itulah yang mendorongnya terus bergerak melalui komunitas. Kini, lewat WYC 2026, ia ingin membawa pulang pengetahuan, jejaring, dan gagasan baru agar upaya melindungi anak serta memberdayakan pemuda di Kabupaten Pekalongan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Yang membawa saya bisa hadir di sini adalah semangat melihat potensi pemuda di Kabupaten Pekalongan yang belum terwadahi. Saya ingin belajar di sini, lalu pulang kembali ke Pekalongan dengan ilmu yang sudah saya dapatkan dan bisa memberikan kebermanfaatan yang lebih luas,” ujar Kholik disela-sela mengikuti rangkaian WYC di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (24/10).
Salah satu komunitas yang ia gagas pada 2026 adalah Ruang Belajar. Komunitas ini lahir dari keresahannya melihat orang-orang di sekitar menjadi korban kekerasan. Bersama rekan-rekannya, Kholik berupaya menghadirkan edukasi agar anak-anak berani mengenali, menghadapi, dan melaporkan tindakan kekerasan.
Meski dimulai dengan langkah kecil, Ruang Belajar telah menggelar kegiatan edukasi dan roadshow ke tiga desa, termasuk melalui talkshow bersama masyarakat. Baginya, perubahan tidak harus selalu dimulai dengan program besar. Edukasi sederhana yang menyentuh anak-anak dan orang tua di lingkungan terdekat pun dapat menjadi langkah awal menciptakan ruang yang lebih aman.
“Saya ingin memulai dengan langkah kecil dari orang-orang sekitar, dari anak-anak yang ada di Kabupaten Pekalongan, agar mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman,” tutur mahasiswa semester tujuh Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman ini.
Kepedulian tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Sejak duduk di bangku SMP, Kholik telah terlibat dalam Forum Anak Kabupaten Pekalongan. Ia ikut mendorong edukasi mengenai peran anak sebagai pelopor dan pelapor, kampanye pencegahan pernikahan dini melalui gerakan Jo Kawin Bocah, serta pemanfaatan media digital secara bijak.
Ia juga aktif dalam Bineka Ceria, komunitas yang bergerak di bidang kepemudaan, pembangunan desa, dan pendidikan. Melalui kegiatan turun langsung ke desa, komunitas ini mengajak mahasiswa mengenali persoalan masyarakat secara nyata, bukan hanya melalui teori di ruang kuliah.
Pengalaman berkolaborasi dalam berbagai kegiatan pengembangan mahasiswa dan sosial semakin memperkuat keyakinannya bahwa pemuda dapat menghasilkan dampak lebih besar ketika bergerak bersama.
Keikutsertaan Kholik dalam WYC 2026 menjadi kesempatan untuk mengembangkan dua gagasan yang ingin ia bawa pulang ke daerahnya, yakni Temu Penggerak dan Ruang Berani.
Temu Penggerak dirancang sebagai ruang berkumpul bagi komunitas dan para pemuda di Kabupaten Pekalongan. Melalui forum ini, mereka diharapkan dapat berdiskusi mengenai persoalan daerah, bertukar gagasan, serta merancang proyek bersama yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Kholik, banyak pemuda memiliki potensi dan kepedulian, tetapi membutuhkan ruang untuk saling mengenal, berkolaborasi, dan mengembangkan ide. Karena itu, ia ingin komunitas-komunitas di Pekalongan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bersinergi menghadirkan solusi.
Sementara itu, Ruang Berani secara khusus diarahkan untuk membantu anak-anak mengenali dan menghadapi berbagai bentuk kekerasan. Program ini mengusung tiga tahapan, yaitu Ready, Set, dan Go.
Tahap Ready berfokus pada persiapan anak agar memahami persoalan dan berani mengambil peran. Tahap Set mendorong mereka menjadi edukator bagi teman sebaya. Selanjutnya, tahap Go menyiapkan anak untuk menjadi pelopor sekaligus pelapor ketika menemukan tindakan kekerasan.
Gagasan tersebut berangkat dari pengamatan Kholik terhadap kondisi anak-anak di lingkungan desa. Menurutnya, sebagian anak masih takut menyampaikan pengalaman kekerasan karena khawatir dianggap membuka aib atau menghadapi stigma dari masyarakat.
“Saya melihat langsung bagaimana anak-anak dan remaja berjuang untuk bertumbuh. Ada yang takut melaporkan kekerasan karena dianggap sebagai aib. Itu yang membuat saya ingin mengajak teman-teman di Kabupaten Pekalongan untuk bekerja bersama,” ungkap pemuda yang juga aktif sebagai master of ceremony (MC), public speaker, moderator, serta penggerak komunitas ini.
Selama mengikuti rangkaian WYC 2026, Kholik mengaku memperoleh banyak perspektif baru dari materi fasilitator maupun diskusi dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Pertemuan dengan pemuda dari Sabang sampai Merauke menjadi pengalaman berharga baginya. Ia berharap WYC 2026 tidak hanya menjadi tempat belajar selama program berlangsung, tetapi juga berkembang sebagai wadah yang mempertemukan potensi, gagasan, dan aksi nyata para pemuda Indonesia.
Kholik juga berharap pengalaman tersebut dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih kuat dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Menurutnya, dukungan bagi gerakan pemuda tidak selalu harus berupa anggaran. Kehadiran, pendampingan, dan kemauan untuk bekerja bersama juga menjadi bentuk dukungan yang berarti.
“Saya berharap Wirasena bisa menjadi talent pool atau wadah bagi pemuda seluruh Indonesia untuk menghadirkan ide dan gagasan dalam membangun negara,” katanya.
Bagi Kholik, perjalanan dari desa menuju ruang belajar berskala nasional bukanlah tujuan akhir. Ia ingin kembali ke Pekalongan dengan bekal yang lebih kuat untuk mempertemukan para penggerak, membangun kolaborasi, dan memperjuangkan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak. (ben)











