Kemenpora Gelar ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Mojokerto, Siapkan Pembinaan dari Akar Rumput
Mojokerto: Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas di Mojokerto, Jawa Timur, pada 1-2 Agustus 2026. Kegiatan ini sebagai upaya membangun ekosistem olahraga disabilitas yang tangguh, sehingga diperlukan penggerak di akar rumput yang dibekali pemahaman saintifik serta visi jangka panjang.
Sekretaris Deputi (Sesdep) Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Tutut Binda Sulistyowati, memberikan penekanan tajam terkait indikator keberhasilan program ini. Menurutnya, parameter
kesuksesan ToT tidak diukur saat penutupan acara, melainkan dari keberlanjutan aktualisasi ilmu di tengah masyarakat.
"Saat kita mengajak sesama masyarakat untuk berolahraga, itu adalah sebuah nilai kebaikan. Mari kita maknai hari ini sebagai langkah kebaikan yang terus berlanjut. Jadilah pelatih yang menggerakkan, jadilah pendamping yang menguatkan, dan jadilah kader-kader yang mampu menghadirkan perubahan," ujarnya saat membuka acara.
Berbeda dengan pelatihan pada umumnya, Kemenpora memastikan para peserta ToT di Mojokerto dibekali dengan pendekatan yang terukur secara medis dan keilmuan olahraga. Dua narasumber ahli dihadirkan secara khusus untuk membedah strategi pembinaan.
Kegiatan yang diikuti 115 peserta terdiri dari atlet, pelatih, serta penggerak olahraga disabilitas dari National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) dan Special Olympics Indonesia (SOIna) ini menjadi instrumen penting dalam mendukung prioritas nasional untuk membudayakan olahraga inklusif.
Dr. Azizati Rochmania, Sp.KFR, FRSport, AIFO, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi yang aktif meneliti bersama NPCI, memberikan pemahaman mendalam mengenai klasifikasi olahraga disabilitas. Sementara itu, Dr. Hendrig Joko Prasetyo,
S.Pd., M.Or., memaparkan materi strategis terkait prinsip penyusunan latihan serta konsep talent identification (identifikasi bakat) dan pemetaan potensi atlet.
Kehadiran program Kemenpora ini mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kota Mojokerto. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Mojokerto, Ani Wijaya, yang hadir mewakili Wali Kota, menyampaikan apresiasinya atas penunjukan Mojokerto sebagai tuan rumah. Ani menyoroti bahwa lahirnya seorang atlet berprestasi adalah buah dari proses yang panjang.
"Atlet disabilitas yang berprestasi lahir dari pembinaan yang sabar, terarah, dan didukung banyak pihak. Melalui kegiatan ini, kita sedang mempersiapkan para
penggerak yang akan menjadi ujung tombak dalam menemukan dan mengembangkan potensi atlet disabilitas, khususnya di Kota Mojokerto," ujarnya.
Ia juga berharap para lulusan ToT ini dapat mendeteksi bibit-bibit atlet sejak dini sehingga arah pembinaan potensi mereka bisa dilakukan secara tepat sasaran.
Dampak langsung dari materi komprehensif ini dirasakan oleh para peserta. Nolina, seorang atlet dari cabang olahraga para archery (panahan difabel), mengaku sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini. Bagi Nolina, pembekalan ilmu klasifikasi dan identifikasi bakat adalah amunisi yang selama ini ia cari.
"Ini adalah ilmu yang bisa menjadi modal saya untuk mengajak teman-teman penyandang disabilitas lainnya di luar sana. Dengan pendekatan yang benar, ke depannya tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak berolahraga dan berprestasi," ungkapnya penuh semangat.
Lewat ToT ini, Kemenpora berharap simpul-simpul penggerak di berbagai daerah dapat terhubung dan menciptakan efek domino. Tidak hanya untuk melahirkan juara di arena pertandingan, tetapi juga mencetak masyarakat disabilitas yang bugar, aktif, dan produktif. Turut hadir memperkuat sinergi dalam acara tersebut antara lain Ketua NPCI Provinsi Jatim
Imam Kuncoro, Ketua SOIna Provinsi Jatim Farida Martarina, serta Ketua NPCI Kota Mojokerto Pity Kifarudin.(yyn/ben)











