Kisah Eko Yuli Angkat Derajat Keluarga, Beli Sawah dan Bangun Sasana dari Prestasi Angkat Besi

Minggu, 26 April 2026
Bagikan:
Menjadi atlet berprestasi menjanjikan masa depan yang cerah. Itulah yang diyakini Eko Yuli Irawan kala masih kanak-kanak. (foto:raiky/kemenpora.go.id)
Menjadi atlet berprestasi menjanjikan masa depan yang cerah. Itulah yang diyakini Eko Yuli Irawan kala masih kanak-kanak. (foto:raiky/kemenpora.go.id)

Jakarta: Menjadi atlet berprestasi menjanjikan masa depan yang cerah. Itulah yang diyakini Eko Yuli Irawan kala masih kanak-kanak. Semua berawal kala dirinya melihat latihan angkat besi di kampungnya, di Kota Metro, Lampung, tahun 2000. 

"Sejak pertama melihat angkat besi, saat itulah saya menemukan cara untuk mengangkat derajat saya dan keluarga saya," kenang Eko yang diabadikan dalam film pendek oleh salah satu jenama olahraga.

Keluarga Eko Yuli memang tergolong tidak mampu. Ayahnya, Saman, bekerja sebagai tukang becak. Sementara sang ibu Wastiah berjualan sayur. Rumah mereka pun menumpang di tanah orang, yang bisa sewaktu-waktu diminta kembali oleh pemiliknya.

“Saat saya merantau, pikiran saya bagaimana kalau tanah itu mau dipakai orangnya? Orang tua saya mau pindah ke mana? Jadi saya punya tekad dan ambisi, harus mengejar prestasi untuk membantu orang tua,” ungkap Eko dalam siniar bersama Presiden NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari.

Karenanya terpatri benar dalam benaknya bagaimana bisa mewujudkan cita-cita menjadi juara. Bukan sebatas sorakan atau tepuk tangan, juara yang dia cita-citakan adalah bagaimana bisa membantu orang tuanya keluar dari kemiskinan.

Perlahan tekad Eko dibarengi latihan giat menemukan jalannya. Sepuluh bulan mengawali latihan angkat besi, dirinya berhasil menjadi yang terbaik, medali emas di kejuaraan nasional. Dari situ wawasan Eko terbuka dan makin bersemangat mengincar prestasi yang lebih tinggi, tak tanggung-tanggung yaitu emas Olimpiade.  

“Pelatih bilang nanti kalau levelnya di Olimpiade, saya bisa bantu orang tua saya,” kenang pria 36 tahun ini.

Eko pun menjalani hari-hari penuh perjuangan dalam menggapai mimpinya. Tak mudah, butuh lima tahun baginya untuk bisa masuk ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di 2006. Dirinya lantas dipercaya mewakili Merah Putih di ajang internasional, kejuaraan dunia junior angkat besi tahun 2006 di Hangzhou. 

Pada kejuaraan dunia pertamanya itu, Eko berhasil meraih medali perak. Setahun berikutnya pada 2007, dia akhirnya mendulang medali emas dalam kejuaraan dunia junior angkat besi yang berlangsung di Praha. 

Emas inilah yang membuka jalan Eko mengangkat derajat kedua orang tuanya. Karena atas prestasinya tersebut, dia diganjar bonus dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kala itu senilai Rp25 juta, yang digunakannya untuk membeli tanah bagi kedua orang tuanya.  

“Bersamaan dengan saya dapat bonus itu, tidak sengaja orang tua di kampung bertemu orang yang mau jual tanah. Jadi langsung saya kirim uangnya buat beli tanah itu,” kisah lifter peraih empat medali Olimpiade ini.

Setelah mampu membelikan kedua orang tuanya tanah, rasa waswas Eko saat pertama merantau pun sirna. Dia makin bersemangat mencetak prestasi mengharumkan nama bangsa. Hasilnya di SEA Games 2007 Thailand, Eko kembali meraih medali emas. 

Lagi-lagi, bonus yang didapatkannya dari Pemerintah atas medali emas ini dia persembahkan buat keluarga, untuk membangun rumah di atas tanah tersebut. 

“Itu pertama kalinya di multievent saya bisa dapat medali. Bonusnya kan lumayan, Rp200 juta. Dari situ saya pulang ke Lampung itu, orang tua saya menjemput di bandara, mereka menangis haru. Karena bonusnya benar-benar buat membangun rumah, dari kami yang sebelumnya tidak punya apa-apa,” urai Eko.  

Orang tua Eko yang sebelumnya sempat tak setuju dengan keputusannya menjadi atlet pun kini memberikan dukungan penuh. Berbekal doa mereka dan latihan serta disiplin, Eko Yuli melesat menjadi lifter Indonesia paling konsisten dalam keikutsertaan di Olimpiade. 

Tercatat sudah lima kali dia mewakili Indonesia di ajang olahraga terbesar di dunia ini secara beruntun, mulai dari Beijing 2008 hingga Paris 2024. Dengan pencapaian dua medali perak, masing-masing pada kategori 62 kilogram di Olimpiade 2016 dan kategori 61 kilogram di Olimpiade 2020, serta dua medali perak masing-masing kategori 56 kilogram di Olimpiade 2008 dan 62 kilogram di Olimpiade 2012. 

Berbagai prestasi telah dicetak Eko dalam ragam keikutsertaannya di ajang-ajang dunia. Pundi-pundi medali emas pun banyak dikoleksinya, bersama dengan bonus-bonus rupiah yang didapatkannya sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah.

Bonus-bonus itu dimaksimalkannya demi masa depan keluarganya, termasuk membelikan sawah untuk kedua orang tuanya. 

“Bonus Olimpiade Beijing kalau tidak salah Rp300 juta, saya belikan sawah untuk orang tua. Setelah itu orang tua bertani di sawah sendiri. Sebelumnya kan bertani di tanah milik orang dengan sistem bagi hasil,” sebut Eko yang pernah merintis usaha sepatu latihan angkat besi ini.

Bukan itu saja, kecintaan Eko pada angkat besi membuatnya membangun sasana tempat latihan angkat besi miliknya sendiri di Bekasi dari bonus-bonus prestasi yang dikumpulkannya. Sasana ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana olahraga angkat besi dengan langsung dilatih oleh Eko, sebagai sarana regenerasi atlet.

“Saya membangun sasana ini untuk bisa mendidik anak-anak latihan, bibit-bibit yang bisa menuju Olimpiade seperti saya. Saya dahulu dari awal juga seperti ini, bertemu tempat latihan, dilatih, difasilitasi, dengan program yang terarah dan sebagainya,” terangnya.

“Saya pengin anak-anak di sini juga bisa merasakan hal yang sama yang saya rasakan, membantu mereka untuk bisa membantu keluarganya, orang tuanya, kalau bisa sukses dan berhasil nanti,” harap Eko. (luk)

Menpora Erick berdialog dengan para peserta Wirasena Youth Camp 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (26/10). (foto:Yayan/kemenpora.go.id)
Senin, 26 Oktober 2026

Berdialog Langsung dengan Peserta Wirasena Youth Camp, Menpora Erick Ajak Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Erick Thohir, menegaskan pentingnya membangun kultur patriotik, gigih, dan berempati bagi generasi muda guna menghadapi tantangan zaman.

Peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 mengunjungi Kampung Pramuka Cemara di Kelurahan Tugu Utara, Jakarta Utara, pada Minggu (25/10), untuk mempelajari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.(dok.Kemenpora)
Minggu, 25 Oktober 2026

Tabungan Sampah Bisa untuk Bayar Sekolah, Peserta Wirasena Youth Camp Belajar dari Kampung Pramuka Cemara

Peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 mengunjungi Kampung Pramuka Cemara di Kelurahan Tugu Utara, Jakarta Utara, pada Minggu (25/10), untuk mempelajari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung praktik pengolahan sampah melalui bank sampah, pemanfaatan sampah organik, hingga sistem pembayaran biaya pendidikan anak usia dini (PAUD) menggunakan sampah.

Peserta Wirasena Youth Camp 2026 mengikuti pembelajaran di luar kelas melalui kunjungan edukatif ke tiga lokasi di Jakarta, Minggu (25/10). (dok.Kemenpora)
Minggu, 25 Oktober 2026

Wirasena Youth Camp 2026 Ajak Peserta Belajar Patriotik, Gigih, dan Berempati Lewat Tur Jakarta

Peserta Wirasena Youth Camp 2026 mengikuti pembelajaran di luar kelas melalui kunjungan edukatif ke tiga lokasi di Jakarta, Minggu (25/10). Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat nilai patriotik, gigih, dan berempati melalui pengenalan inovasi lingkungan, sejarah dan budaya, serta perjuangan bangsa Indonesia.

Baru lulus SMA pada 2026, Raffi Abya Saputra sudah punya pengalaman yang tak biasa bagi anak seusianya. Pemuda asal Kabupaten Malinau,(dok.Gilang/Kemenpora)
Sabtu, 24 Oktober 2026

Baru Lulus SMA, Peserta WYC 2026 Raffi dari Malinau Sudah Bicara Isu Hutan di COP29 Baku, Azerbaijan

Baru lulus SMA pada 2026, Raffi Abya Saputra sudah punya pengalaman yang tak biasa bagi anak seusianya. Pemuda asal Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara itu pernah menjadi pembicara di Paviliun Indonesia dalam konferensi iklim COP29 di Baku, Azerbaijan.

Ni Made Lifia Kristina justru memilih jalan berbeda. Gadis berusia 21 tahun asal Bali ini berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya.(dok.Yayan/Kemenpora)
Jumat, 23 Oktober 2026

Belajar dari Wirasena Youth Camp 2026, Lifia Siapkan Langkah Baru untuk Literasi dan Budaya BalI

Di tengah kehidupan anak muda yang lekat dengan tren digital dan budaya populer, salah satu peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, Ni Made Lifia Kristina justru memilih jalan berbeda. Gadis berusia 21 tahun asal Bali ini berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya.

Maulana Rifky Yavianda punya cara tersendiri menghadapi tekanan jelang Asian Para Games 2026. Perenang andalan Indonesia itu memilih kembali mengingat kecintaannya pada renang sejak usia empat tahun agar bisa tampil lepas di Nagoya, Jepang.(dok.NPCI)
Jumat, 16 Oktober 2026

Juara Bertahan Asian Para Games, Rifky Pilih Tampil Lepas di Nagoya

Maulana Rifky Yavianda punya cara tersendiri menghadapi tekanan jelang Asian Para Games 2026. Perenang andalan Indonesia itu memilih kembali mengingat kecintaannya pada renang sejak usia empat tahun agar bisa tampil lepas di Nagoya, Jepang.

Sumaya sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball nomor Women's Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. (dok. Gilang/Kemenpora)
Senin, 21 September 2026

Dua Tahun Tekuni Teqball, Debut Sumaya Sukses Raih Medali Perak Pertama untuk Indonesia di Asian Games 2026

Sumaya sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball nomor Women's Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Pertama Kalinya Dispora Se-Indonesia Dikumpulkan, Menpora Erick Ajak Daerah Bangun Perspektif Baru Pemuda dan Olahraga
Rabu, 21 Oktober 2026

Pertama Kalinya Dispora Se-Indonesia Dikumpulkan, Menpora Erick Ajak Daerah Bangun Perspektif Baru Pemuda dan Olahraga

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengajak seluruh jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan pemangku kepentingan di seluruh daerah untuk melakukan transformasi fundamental.

Menpora Erick Thohir Buka Indonesian Padel League 2026
Rabu, 07 Oktober 2026

Menpora Erick Thohir Buka Indonesian Padel League 2026

Indonesian Padel League 2026 menjadi langkah pengembangan ekosistem padel nasional melalui penyelenggaraan kompetisi liga sekaligus penguatan pembinaan atlet dan tim nasional. Perkembangan tersebut turut melanjutkan momentum prestasi padel Indonesia yang meraih medali perak pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Momen Pertandingan Final FIFA ASEAN CUP 2026 Antara Indonesia Melawan Thailand
Senin, 05 Oktober 2026

Momen Pertandingan Final FIFA ASEAN CUP 2026 Antara Indonesia Melawan Thailand

Timnas Indonesia menutup final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan atas Thailand melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 hingga 120 menit. Perayaan gelar juara di SUGBK semakin meriah dengan kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden FIFA Gianni Infantino, Menpora Erick Thohir, serta penampilan Anggun C. Sasmi dan Judika.

UPDATE INFORMASI

INSTAGRAM

Goverment Public Relation

Banner desktop HSP 2026 Banner website HSP 2026