David Chua Dorong Penguatan Peran Pemuda dalam Kepemimpinan Masa Depan
Jakarta: Pemberdayaan pemuda menjadi salah satu kunci dalam membangun kepemimpinan masa depan. Hal tersebut disampaikan CEO National Youth Council (NYC) Singapore, David Chua, dalam sesi “Empowering Youth, Strengthening Leadership: Lessons from SIYLEP” pada rangkaian Indonesia Youth Summit 2026 yang berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (29/10).
Dalam sesi tersebut, David berbagi pengalaman Singapura dalam membangun ekosistem kepemudaan melalui penguatan suara (voice), keterampilan kewargaan dan kebijakan (civic and policy skills), serta ruang bagi pemuda untuk mengambil aksi (action).
Menurut David, pemberdayaan pemuda tidak hanya dilakukan dengan memberikan ruang untuk berbicara, tetapi juga dengan membekali mereka dengan kemampuan dan kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
“Memberdayakan pemuda berarti menciptakan ruang agar suara mereka dapat didengar, membekali mereka dengan perspektif strategis, dan memberikan kesempatan untuk mengambil aksi,” ujar David.
Ia menjelaskan, pemuda membutuhkan wadah yang memungkinkan mereka menyampaikan gagasan, memahami perspektif yang beragam, sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai program di Singapura seperti Youth Dialogues, Civic Conversations, dan Youth Panels.
Melalui program tersebut, pemuda tidak hanya berdiskusi mengenai isu-isu yang berkembang, tetapi juga dilibatkan dalam memberikan masukan dan menyusun rekomendasi terhadap berbagai kebijakan.
David menyampaikan, terdapat beberapa hal penting dalam membangun pemberdayaan pemuda yang efektif, mulai dari membekali pemuda dengan keterampilan kewargaan dan pemahaman kebijakan, menghadirkan struktur serta proses yang jelas, memberikan ruang bagi pemuda untuk berinisiatif, menghadirkan pendampingan melalui mentor maupun pelatih, hingga membangun kepercayaan.
Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem tersebut, namun keterlibatan berbagai pihak seperti sektor swasta dan masyarakat juga dibutuhkan agar kolaborasi bersama pemuda dapat berjalan lebih kuat.
Sementara itu, perwakilan delegasi SIYLEP 2026, Rachel Lau dari Singapura dan Muhammad Abbas Ar-Riziq dari Indonesia, turut membagikan refleksi perjalanan para peserta selama mengikuti program.
Dalam presentasinya, kedua delegasi membawa empat nilai utama yang menjadi semangat bersama, yaitu Berbudaya, Berjuang, Berdampak, dan Bersama.
Pesan “Dua bendera. Satu warna. Titik temu” menjadi gambaran semangat kolaborasi pemuda Indonesia dan Singapura. Meski memiliki latar belakang yang berbeda, para delegasi melihat adanya nilai bersama yang dapat memperkuat hubungan kedua negara, yaitu keberanian, integritas, dan rasa saling percaya.
Melalui Indonesia Youth Summit 2026, pemuda Indonesia dan Singapura diharapkan dapat terus memperkuat jejaring, bertukar gagasan, serta menghadirkan kolaborasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.(praj)











