Pesan Cokorda Raka untuk Anak Muda: Olahraga dan Pendidikan Harus Jalan Beriringan

Menjadi atlet profesional bukan berarti harus mengesampingkan pendidikan. Justru, pendidikan menjadi bekal penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir.
Kamis, 10 September 2026
Menjadi atlet profesional bukan berarti harus mengesampingkan pendidikan. Justru, pendidikan menjadi bekal penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir. (foto: Bagus/Kemenpora

Jakarta: Menjadi atlet profesional bukan berarti harus mengesampingkan pendidikan. Justru, pendidikan menjadi bekal penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir.

Hal itu disampaikan mantan atlet tim nasional (timnas) basket Indonesia yang kini berkarier sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, Cokorda Raka Satrya Wibawa.

Perjalanan di dunia basketnya terbilang tidak dimulai sejak usia dini. Saat duduk di bangku SD, ia sempat diperkenalkan dengan basket. Namun, ia baru benar-benar menekuni olahraga tersebut ketika duduk di kelas 3 SMP atau sekitar usia 14-15 tahun.

Sebelum serius di basket, ia telah mencoba berbagai cabang olahraga, mulai dari tenis, sepak bola, bulu tangkis hingga renang. Ia juga memiliki ketertarikan besar terhadap musik dan menguasai sejumlah alat musik seperti gitar, piano, keyboard, dan drum.

Bakat di basket kemudian semakin terlihat karena postur tubuhnya yang tinggi. Sang kakak bahkan mendorong pelatih untuk serius membina dirinya.

"Teman-teman saya waktu itu sudah jago-jago, sedangkan saya baru belajar. Dari mulai belajar lay-up sampai akhirnya terus berlatih,” ujarnya saat podcast di Kantor Kemenpora Senayan, Jakarta, Senin (31/8).

Perjalanan panjang itu kemudian membawanya ke level profesional hingga timnas Indonesia. Salah satu momen paling berkesan terjadi saat memperkuat timnas basket Indonesia pada SEA Games 2001.

Saat itu, Indonesia meraih medali perak. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah basket Indonesia karena persaingan di kawasan Asia Tenggara sangat ketat.

"Setiap kemenangan pasti mengesankan. Tapi saat timnas Indonesia di SEA Games 2001 mendapat medali perak, saya kebetulan ada di tim itu. Itu menjadi salah satu momen sejarah basket Indonesia,” kata pria 205 cm ini.

Di tengah kesibukannya sebagai atlet, ia juga tetap menjalani pendidikan. Baginya, atlet memiliki masa karier yang terbatas sehingga harus mempersiapkan kehidupan setelah pensiun.

"Olahraga prestasi, baik sebagai pelatih maupun atlet, umurnya tidak panjang, terutama atlet. Setelah tidak menjadi atlet, kita mau jadi apa? Kalau punya latar belakang pendidikan yang bagus, masih ada modal untuk terjun ke kehidupan berikutnya,” tutur mantan atlet timnas basket asal Bali ini. 

Ia mengaku pernah menghadapi situasi sulit ketika jadwal pertandingan berbarengan dengan ujian. Namun, kondisi tersebut disiasati dengan manajemen waktu yang baik, tegas dan berani.

Ia bahkan pernah menjalani ujian di pagi hari sebelum berangkat ke Solo untuk bertanding pada malam harinya. Situasi serupa terjadi ketika timnas bertanding di Singapura. Ia mengikuti ujian terlebih dahulu sebelum menyusul rekan-rekannya ke lokasi pertandingan.

Menurutnya, dukungan dari lingkungan juga sangat penting. Orang tuanya yang berlatar belakang akademisi selalu mendorong agar pendidikan dan olahraga dapat dijalani secara bersamaan.

"Kalau bisa jalan dua-duanya, kenapa enggak. Mereka juga yakin saya bisa," ujarnya.

Kini, ia melihat kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan prestasi olahraga sekaligus pendidikan semakin terbuka.

Menurutnya, berbagai program beasiswa olahraga di jenjang pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, dapat menjadi peluang bagi atlet muda untuk meraih pendidikan yang lebih baik.

"Olahraga itu salah satu jalan untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Sekarang sebenarnya lebih mudah dibanding zaman dulu. Apalagi di era digital, informasi lebih mudah didapat," katanya.

Setelah menjadi ASN Kemenpora melalui jalur prestasi, ia juga melihat adanya kesempatan untuk tetap berkontribusi di dunia olahraga sekaligus menjalankan tugas sebagai aparatur negara.

Ia mengakui terdapat perbedaan antara kehidupan atlet dan birokrasi. Jika sebagai atlet dirinya lebih banyak mendapatkan pelayanan untuk mendukung prestasi, sebagai ASN ia justru dituntut memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Kalau di atlet profesional kita dilayani. Kalau di birokrasi, kita melayani," ujarnya.

Baginya, kunci menjalani berbagai peran tersebut adalah disiplin dan kemampuan beradaptasi. "Keep moving forward. Semua pasti ada halangannya. Kita harus beradaptasi dan mencari jalan untuk mengatasinya," katanya.

Ia juga berpesan kepada anak muda yang ingin menekuni olahraga agar tidak takut mengejar prestasi sekaligus pendidikan.

"Kekalahan itu pasti ada, apalagi sebagai atlet. Kekalahan memang pukulan berat, tetapi masih ada hari esok yang harus kita lalui dengan memperbaikinya. Kekalahan itu hanya satu langkah lagi menuju kemenangan," pungkasnya.(ben)

Bagikan:
Menpora Erick Thohir mengajak seluruh jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan pemangku kepentingan di seluruh daerah untuk melakukan transformasi fundamental. (foto:raiky/kemenpora.go.id)
Kamis, 15 Oktober 2026

Pertama Kalinya Dispora Se-Indonesia Dikumpulkan, Menpora Erick Ajak Daerah Bangun Perspektif Baru Pemuda dan Olahraga

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengajak seluruh jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan pemangku kepentingan di seluruh daerah untuk melakukan transformasi fundamental.

Menpora Erick menghadiri pelantikan Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) masa bakti 2026-2030 di Hallf Patiunus, Jakarta, Kamis (15/10).(foto:Andre/Kemenpora.go.id)
Kamis, 15 Oktober 2026

Pelantikan PB Esports Indonesia, Menpora Erick Tegaskan Komitmen Presiden Perkuat Pelatnas dan Kesejahteraan Atlet

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Erick Thohir, menegaskan bahwa olahraga merupakan instrumen penting untuk mencerminkan kedigdayaan bangsa sekaligus membangun jenama nasional di tingkat global.

Kegiatan Rabu Bugar melalui Senam Jantung Sehat bersama komunitas Asosiasi Dong Yue Taiji Quan Indonesia (ADYTI) di halaman kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (21/10/2026).(Foto:Kemenpora/Bagus)
Rabu, 14 Oktober 2026

Senam Rabu Bugar di Kemenpora Dihadiri Klub Jantung Sehat dan Komunitas Tai Chi ADYTI

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar kegiatan Rabu Bugar melalui Senam Jantung Sehat bersama komunitas Asosiasi Dong Yue Taiji Quan Indonesia (ADYTI) di halaman kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (21/10/2026), mulai pukul 07.00 WIB.

Sumaya sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball nomor Women's Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. (dok. Gilang/Kemenpora)
Senin, 21 September 2026

Dua Tahun Tekuni Teqball, Debut Sumaya Sukses Raih Medali Perak Pertama untuk Indonesia di Asian Games 2026

Sumaya sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball nomor Women's Singles pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Usianya baru 11 tahun, tetapi Mikhayla Shanum Caya sudah bersiap membawa nama Indonesia di panggung olahraga Asia. Atlet yang mewakili Papua Pegunungan itu akan tampil di Asian Games 2026. (foto: Instagram Mikhayla Shanum Caya)
Kamis, 17 September 2026

Mikhayla Shanum Caya, Atlet 11 Tahun wakili Papua Pegunungan di Asian Games 2026

Usianya baru 11 tahun, tetapi Mikhayla Shanum Caya sudah bersiap membawa nama Indonesia di panggung olahraga Asia. Atlet yang mewakili Papua Pegunungan itu akan tampil di Asian Games 2026.(foto: instagram @kekesrintil)

Seorang atlet muda dari Special Olympics Indonesia (SOIna) Jakarta, Tasya, tampil dalam senam bersama tim sports dance yang ditampilkan pada festival olahraga disabilitas, salah satu rangkaian acara ISS 2026 di Jakarta (foto: Suci/Kemenpora
Sabtu, 12 September 2026

Lewat Sports Dance, Tasya Buktikan Disabilitas Bisa Berkontribusi bagi Indonesia

Seorang atlet muda dari Special Olympics Indonesia (SOIna) Jakarta, Tasya, tampil dalam senam bersama tim sports dance yang ditampilkan pada festival olahraga disabilitas, salah satu rangkaian acara Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta International Convention Centre (JICC). Ini merupakan kali pertama Tasya mengikuti kegiatan tersebut.

Saskia Mayesa, anak umur 4 tahun yang menginspirasi pada kegiatan Doa dan Makan Bersama Menpora Erick dan anak-anak panti asuhan dalam rangkaian acara Indonesia Sports Summit 2026.(dok.Suci/Kemenpora)
Jumat, 11 September 2026

Kehilangan Orang Tua di Usia 2 Tahun, Semangat Belajar Saskia Tak Pernah Padam

Saskia Mayesa, 4 tahun, yang dengan penuh percaya diri mampu melafalkan Surat Al-Fatihah di hadapan para tamu undangan pada kegiatan Doa dan Makan Bersama Menpora Erick dan anak-anak panti asuhan dalam rangkaian acara Indonesia Sports Summit 2026.

Menpora Erick Thohir Buka Indonesian Padel League 2026
Rabu, 07 Oktober 2026

Menpora Erick Thohir Buka Indonesian Padel League 2026

Indonesian Padel League 2026 menjadi langkah pengembangan ekosistem padel nasional melalui penyelenggaraan kompetisi liga sekaligus penguatan pembinaan atlet dan tim nasional. Perkembangan tersebut turut melanjutkan momentum prestasi padel Indonesia yang meraih medali perak pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Momen Pertandingan Final FIFA ASEAN CUP 2026 Antara Indonesia Melawan Thailand
Senin, 05 Oktober 2026

Momen Pertandingan Final FIFA ASEAN CUP 2026 Antara Indonesia Melawan Thailand

Timnas Indonesia menutup final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan atas Thailand melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 hingga 120 menit. Perayaan gelar juara di SUGBK semakin meriah dengan kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden FIFA Gianni Infantino, Menpora Erick Thohir, serta penampilan Anggun C. Sasmi dan Judika.

Closing Ceremony Asian Games Aichi-Nagoya 2026
Minggu, 04 Oktober 2026

Closing Ceremony Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Closing Ceremony Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi momen penutup perjuangan kontingen Indonesia, sekaligus panggung bagi Meydiana Laviola untuk membawa Merah Putih dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui busana Prada Bali dan Songket Bali. Indonesia menutup ajang tersebut dengan total 39 medali, terdiri atas 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu.

UPDATE INFORMASI

INSTAGRAM

FACEBOOK

Banner desktop HSP 2026 Banner website HSP 2026