Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Mas Ages, Sosok Dibalik Suksesnya Taman Suropati Chamber Pecahkan Rekor Dunia Konser dan Memainkan Lagu Indonesia Raya Orkestra


Keberhasilan Konser Indonesia Raya dan Memainkan Lagu Indonesia Raya Dengan Orkestra di Taman oleh Pemain Terbanyak yang sukses memecahkan Rekor MURI dan Rekor Dunia serta resmi dibuka oleh Menpora Imam Nahrawi pada Minggu (5/5) pagi tak lepas dari sosok Agustinus Esti Sugeng Dwiharso (kiri) atau yang akrab di panggil Mas Ages sebagai punggawa TSC (Taman Suropati Chamber). (foto:putra/kemenpora.go.id)
Jakarta: Keberhasilan Konser Indonesia Raya dan Memainkan Lagu Indonesia Raya Dengan Orkestra di Taman oleh Pemain Terbanyak yang sukses memecahkan Rekor MURI dan Rekor Dunia serta resmi dibuka oleh Menpora Imam Nahrawi pada Minggu (5/5) pagi tak lepas dari sosok Agustinus Esti Sugeng Dwiharso atau yang akrab di panggil Mas Ages sebagai punggawa TSC (Taman Suropati Chamber). 
 
Pagi itu Mas Ages yang berperawakan tinggi, besar, berjenggot, berkumis tebal, mengenakan kaos, celana jins dan topi ala baret warna merah ini sejak pagi telah sibuk mempersiapkan anak didiknya yang berasal dari beberapa sekolah dan komunitas musik sebanyak 326 orang peserta agar acara yang telah disiapkan beberapa minggu sebelumnya dapat sukses dan lancar. 
 
TSC merupakan Komunitas yang juga mendapatkan Rekor MURI pada 2010 sebagai The First Music Community in the Park."Begini, sebenarnya ini adalah suatu niat dari berbagai macam keinginan yang dasarnya di Taman Suropati, di sini kita memberikan pembelajaran bermain biola kemudian dari sekian angkatan yang terlibat disini kemudian mereka sudah bisa membagikan ilmunya di sekolah-sekolah," tutur Mas Ages, lelaki kelahiran Kulonprogo, 7 Mei 1970 itu.
 
Menurutnya, para peserta ini kaitanya erat dengan Taman Suropati karena instruktur mereka adalah orang-orang yang memulai kariernya disini. Ia juga mengakui telah belajar di Taman Suropati sejak 12 tahun lalu. "Instruktur mereka tidak harus latihan di tempat ber-AC diruang yang tertutup tetapi mereka latihan di atas rerumputan, di kebun tetapi kemudian mereka mampu mentransfer ilmunya kepada para murid-muridnya di berbagai tempat," tegas pria yang pada 2006 lalu diundang ke Den Haag, Belanda untuk menjadi tutor orang Eropa menyosialisasikan musik Keroncong.
 
Di taman ini sambungnya, ada kelas bibit, kelas akar, kelas dahan dan kelas ranting, filosofinya adalah menyemai sesuatu dengan telaten dan rutin dari bibit hingga menjadi tumbuh dan berkembang. "Kami adalah Komunitas Musik Taman Pertama di Indonesia bahkan di dunia dan kami gunakan sebaik-baiknya untuk memberikan pendidikan kepada generasi muda yang tanggap, mau dan semangat menjalankan kreatiffitas tanpa pamrih dan memiliki orientasi kepada tujuan," katanya. 
 
Yang membuatnya bangga hingga hari ini adalah arrangement musik yang disajikan untuk acara Pemecahan Rekor MURI adalah berasal dari salah satu siswa yang pernah belajar musik di Taman Suropati. "Empat diantara mereka yang meng-arrangement acara ini telah menjadi sarjana musik atas bantuan anggota komunitas dan masyarakat yang peduli, jadi dari taman inipun telah tumbuh para pendekar yang akhirnya membawa anak-anak ini bersiap memecahkan Rekor MURI hari ini," tutur pria lulusan SPG Muntilan Van Lith ini.
 
"Semoga bagi anak-anak muda di Indonesia acara ini menjadi inspirasi untuk selalu punya ide, kreatifitas dimanapun, kapanpun, kalian jangan pernah menunda ide-ide itu karena jika kalian menunda sehari ide itu berarti sukses kalian juga tertunda satu hari, terima kasih Kemenpora, bapak-bapak, ibu-ibu semoga hari ini lancar," pesannya. (ben)