Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Diberitahukan bahwa saat ini Call Center Kemenpora (1500 928) sudah aktif kembali.

Siaran Pers No. 5/ Kom-Publik/Kemenpora/1/2017: Catatan Kritis dan Apresiasi Kemenpora Terhadap Laporan PT GTS Dalam Penyelenggaraan Kompetisi ISC 2016

Minggu, 22 Januari 2017

(Kuta - Bali, 22 Januari 2017). Dalam siaran persnya tanggal 28 Desember 2016, Kemenpora menyampaikan informasi, bahwa Kemenpora pada tanggal 27 Desember 2016 telah mengirimkan surat No. 1414/D.IV/12/2016 kepada Direktur Utama  PT Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku operator turnamen Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Surat itu disampaikan  mengingat ISC 2016 telah berakhir di akhir tahun 2016 dengan lancar meskipun ada berbagai dinamika persoalan saat berlangsungnya turnamen tersebut. Namun demikian, mengingat turnamen tersebut di antaranya bisa berlangsung karena adanya rekomendasi dari Kemenpora pada akhir bulan April 2016 berdasarkan keberadaan surat PT GTS  No. 047/GTS/IV/2016 tertanggal 18 April 2016 perihal permohonan rekomendasi Indonesia Soccer Championship 2016, maka Kemenpora melalui siaran pers tersebut kembali mengingatkan agar laporan kegiatan pelaksanaan Indonesia Soccer Championship 2016 untuk dapat segera disampaikan kepada Menpora.

 

Sebagai respon surat tersebut, Joko Driyono selalu Direktur Utama PT Gelora Trisula Semesta pada tanggal 16 Januari 2017 telah mengirimkan surat No. 488/GTS/1/2017 perihal laporan pelaksanaan kompetisi Indonesia Soccer Championship 2016, yang ditujukan kepada Menpora Imam Nahrawi. Selain mengucapkan terima kasih kepada Menpora, dalam lampiran surat tersebut Direktur Utama PT GTS juga menyampaikan laporan secara lengkap terkait dengan pelaksanaan kompetisi dan atau turnamen ISC 2016 tersebut. 

 

Beberapa hal penting yang menjadi catatan Kemenpora adalah sebagai berikut:

1. PT GTS menerapkan struktur keolahragaan, bisnis dan kompetisi yang cukup efektif dibandingkan jika sebelum ini banyak kompetisi / turnamen yang menerapkan pola organizing oleh Panpel Klub. 

2. PT GTS menerapkan regulasi yang scope of work nya dicoba cukup luas kewenangannya mulai dari masalah salary cap (pembatasan gaji pemain khususnya batas gaji atas dan bawah yang ditentukan), kewajiban klub atas pembayaran gaji pemain, kewajiban klub atas jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan, proteksi komersial, integritas kompetisi (match fixing dan double ownership), sistem audit berkala bagi klub, dan pemerapan managemen resiko. Catatan Kemenpora: laporan PT GTS tersebut masih perlu teruji dalam aplikasinya apakah benar-benar diterapkan secara konsisten. Jika konsisten, berarti ada kemajuan yang signifikan.

3. Jika sebelum ini tidak ada regulasi terkait proteksi pemain dan komersial serta tidak ada regulasi terkait  keamanan dan managemen resiko dalam penyelenggaraan, maka PT GTS dlm konteks ini melaporkan telah menerapkannya meski untuk itu perlu didukung data yang lengkap serta valid. Serta adanya laporan minimnya kasus pelanggaran yang melibatkan suporter (dilaporkan hanya 2% dari total pelanggaran). Jika data tersebut valid, tentu positif artinya. Tetapi ini juga perlu di-challenge berdasarkan banyaknya laporan yang diterima Kemenpora terkait maraknya pelanggaran yang melibatkan suporter. 

4. Yang cukup menarik dan perlu diapresiasi dari laporan PT GTS ini adalah dampak ekonomi dari turnamen seperti di antaranya total gross value added kompetisi bagi ekonomi Indonesia adalah sebesar US$ 400 juta (berdasarkan survei bulan Mei - Juni 2016), total penyerapan tenaga kerja sebesar 38.000 orang, dan peningkatan sebesar 30% bagi BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional) pada produknya setelah menjadi salah satu sponsor ISC. Data ekonomi tersebut tentu menunjukkan adanya multiplier effect sepakbola yang luar biasa bagi publik, dan PT GTS cukup rinci dalam laporannya.

5. Yang juga tidak kalah menarik dari aspek komersial laporan PT GTS ini adalah tentang upaya untuk mulai men-transparansi-kan data pemasukan komersial baik dari sponsor, hak siar televisi dan lain-lain. Ini sesuatu hal baru yang sebelum ini hanya diketahui kalangan terbatas. Kemenpora berharap pola transparansi ini bisa menjadi rujukan bagi PSSI dan pihak operator sepakbola nasional lainnya. 

6. PT GTS juga melaporkan tentang proteksi pada wasit. Kemenpora concern dengan masalah ini, karena faktanya cukup banyak informasi bahwa proteksi terhadap wasit belum sepenuhnya proper, karena terbukti ada beberapa kejadian dimana beberapa klub tertentu, khususnya di ISC - B cenderung melakukan pembiaran saat beberapa pemainnya melakukan phisical harrasment terhadap wasit. PT GTS sesungguhnya sudah melaporkan seperti misalnya tiap bulan berapa wasit yang di up grade (penyegaran kualitas), dites, diparkir sementara, dievaluasi dan didegradasi. Namun belum dilaporkan tentang nasib mereka (wasit) yang sempat memperoleh perlakukan buruk dari pemain.

7. Khusus mengenai optimalisasi penggunaan IT based Services, PT GTS telah melakukan sejumlah terobosan yang sangat signifikan dan ini diperkirakan di-trigger oleh kehadiran IM3 OOREDOO perusahaan berbasis IT sebagai salah satu sponsornya, sesuatu yang tidak banyak digunakan selama ini di PSSI. Yang jadi masalah adalah selain infrastruktur yang belum memadai dan kapasitas bandwidth yang belum optimal, juga karena belum dilakukan awareness pada klub dan masyarakat, sehingga langkah bagus ini belum banyak diketahui publik.

8. Selain itu ada beberapa catatan kritis yang belum dilaporkan kepada Kemenpora, di antaranya: apakah tes doping sempat dilakukan dengan sejumlah sample tertentu; sejauh mana strata dan verifikasi pemain asing diberlakukan (karena yahg dilaporkan hanya jumlah pemain asing dan umur tertua dan termudanya); dan sejauh mana hubungan dengan kelompok suporter dapat dilakukan secara konstruktif, karena faktanya insiden konflik antar suporter masih cukup rawan, meski itu juga bukan sepenuhnya tanggung jawab PT GTS tetapi juga kewajiban klub untuk melakukan pembinaan pada suporternya.

 

Namun demikian, secara umum Kemenpora  mengucapkan terima kasih dan sungguh mengapresiasi PT GTS yang telah menyampaikan laporan kompetisi ISC di semua stratanya secara komprehensif. Laporan ini diharapkan bisa menjadi referensi bagi PSSI dan para pemangku kepentingan di bidang sepakbola. Dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah PT GTS mematuhi ketentuan untuk melakukan Cooperation Agreement dengan BOPI yang telah ditanda-tangani pada tanggal 27 April 2016, yang mengindikasikan PT GTS mematuhi keberadaan BOPI sebagai badan yang sah sesuai ketentuan untuk melakukan tugas di antaranya verifikasi terhadap kegiatan olahraga profesional. Ini sesuatu yang perlu ditiru oleh PSSI menjelang bergulirnya kompetisi liga profesional tanggal 26 Maret 2017. 

 

--------------------

Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga merangkap sebagai Kepala Komunikasi Publik Kemenpora (Gatot S Dewa Broto, HP: 0811898504, Email: gsdewabroto@gmail.com, Twitter: @gsdewabroto).

Desember 2017
Min
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31