Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Tiga Juara, Tiga Cerita

Selasa, 10 Juli 2018 15:00:00

Setiap perjalanan karier para juara selalu diiringi berbagai jenis cerita. Mulai dari pahitnya kekalahan hingga manisnya kemenangan. Tak jarang, terdapat pula momen unik yang tak dapat terlupakan. Petinju La Paene Masara, contohnya. Ia pernah dikatai orang gila karena berlatih di kuburan. Ia juga pernah tidur di kolong jembatan demi mengejar cita-citanya.(foto: dok/kemenpora.go.id)

Setiap perjalanan karier para juara selalu diiringi berbagai jenis cerita. Mulai dari pahitnya kekalahan hingga manisnya kemenangan. Tak jarang, terdapat pula momen unik yang tak dapat terlupakan. Petinju La Paene Masara, contohnya. Ia pernah dikatai orang gila karena berlatih di kuburan. Ia juga pernah tidur di kolong jembatan demi mengejar cita-citanya.
 
Bagaimanapun, setelah berhasil menjadi petinju, pengalaman berkesan tak habis-habisnya menyapa hidup La Paene. Salah satu peristiwa paling menarik terjadi dalam turnamen Agung Cup 1995 di Malaysia, satu tahun sebelum ia menembus babak perempat final Olimpiade Atalanta.
 
Pria yang lahir Buton, Sulawesi Selatan pada 10 November 1973 tersebut menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke final. Ia bertemu dengan petinju tuan rumah. La Paene mendapatkan teror dari warga Malaysia yang memenuhi tempat pertandingan."Intimidasinya penonton gila-gilaan. Saya baru naik ring, penontonnya malah teriak-teriak 'dangdut! dangdut!'" kenang dirinya.
 
Sosok yang terkenal memiliki hook kanan mematikan itu berhasil menang pada ronde ke-2. Sang lawan terjatuh dan tak mampu melanjutkan pertandingan. Seisi ruangan terdiam, tak percaya jagoannya kalah.
La Paene pun turun dari ring. Sebelum masuk ke ruang ganti, ia melihat para penonton berbondong-bondong mengikutinya. 
 
"Penonton di dalam gedung masih banyak, tiba-tiba semua turun menuju ruang ganti. Saya pikir saya mau dikeroyok, tidak tahunya mereka mau salaman dengan saya dan mengakui saya hebat," jelas La Paene yang disusul dengan tawa.
 
Adu Otak Sembilan Jam
Legenda catur Indonesia Utut Adianto memiliki kisah berbeda. Sebagai sosok yang sangat kompetitif, ia melihat setiap pertandingan adalah tentang menghegemoni episentrum pertempuran. Pria asli Jakarta tersebut pun sangat menikmati rivalitasnya dengan pecatur China Ye Jiangchuan. Dari total 25 kali bertanding, Utut dan Ye Jiangchuan masing-masing mencatatkan dua kemenangan, sementara sisnya berakhir imbang.
 
Ada satu pertandingan dengan Ye Jiangchuan yang sangat berkesan bagi Utut. Pada 1985, keduanya bertanding sampai sembilan jam. Ini merupakan pertandingan terlama yang pernah dilalui sepanjang karier Utut.
"Main catur selama satu jam saja pantatnya pasti sudah panas. Kita tanding pernah tanding selama sembilan jam. Hasilnya remis. Kalau sudah lama memang biasanya imbang," kata sosok yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua DPR itu.
 
"Dia punya gajah dan kuda, saya punya kuda, tetapi kuda saya agak jauh. Kuda saya ini ingin dimakan. Saya bisa ngeles-ngeles hingga akhirnya remis. Itulah rivalitas saya dengan Ye Jiangchuan," lanjut dirinya. Utut masih tetap menjalin hubungan dengan Ye Jiangchuan hingga kini. Tak jarang, Ye Jiangchuan menghubungi Utut ketika berkunjung ke Indonesia.
 
Dari Lawan Menjadi Kawan 
Di dalam lapangan menjadi lawan, di luar lapangan menjadi kawan. Ini memang merupakan hal biasa bagi para olahragawan. Petenis legendaris nasional Yayuk Basuki pun mengalami hal serupa. Yayuk bersahabat akrab dengan petenis Thailand Tamarine Tanasugarn, terutama setelah final Asian Games 1998 yang digelar di Bangkok.
 
Masih terekam jelas dalam ingatan Yayuk. Ribuan suporter Thailand membanjiri venue pertandingan untuk mendukung Tamarine. Jika biasanya laga tenis berjalan sunyi, para suporter Thailand justru membawa drum dan terompet. Hal ini dilakukan untuk memberikan dukungan kepada Tamarine, sekaligus meneror Yayuk.
 
"Pendukung kita kan cuma 10-15 orang di antara sekian ribu pendukung mereka pakai drumband dan segala macam, tapi ya sudah saya pasrahkan dan fokus. Saya berjuang dan pasrahkan semua kepada Allah. Makanya begitu selesai saya langsung sujud," ucap Yayuk.
 
Seusai laga, Tamarine meminta Yayuk menjadi mentor. Hal ini membuat Tamarine mampu menyamai raihan emas Yayuk: menembus 20 besar petenis putri terbaik dunia."Kenangan yang bagus dan positif karena ia menganggap saya sebagai kakak. Ia menunjuk saya sebagai mentor," tutur dirinya.
 
Tidak hanya Tamarine yang menaruh hormat pada Yayuk, melainkan seluruh penggemar tenis di Thailand. Ia pernah disambut secara meriah oleh warga lokal karena berhasil menjuarai WTA Tour di Pattaya sebanyak tiga kali."Dari airport menuju Pattaya, sepanjang jalan ada gambar saya. Di hotel restoran, tatakan makan ada gambar saya. Itu kebanggaan Thailand terhadap saya," kenang Yayuk.(dok)
 
 
Bookmark and Share
Juli 2018
Min
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31