Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Haul Pangeran Diponegoro ke-163 Wadah Menebarkan Semangat Pahlawan Bangsa Kepada Pemuda

Senin, 08 Januari 2018 10:00:00

Asisten Deputi Bidang Peningkatan IPTEK dan IMTAQ Pemuda Esa Sukma Wijaya menghadiri Haul Pangeran Diponegoro ke-163, di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, Senin (8/1) pagi. Peringatan yang mengangkat tema "Mewarisi Nilai-nilai Kepahlawanan Pangeran Diponegoro Untuk Kaum Muda" ini, dihadiri berbagai lintas tokoh seperti Sejarawan Nasional Anhar Gonggong, Pengurus Ikatan Keluarga Pahlawan Nasonal Lily Chodidjah Wahid, Penulis Buku Islam Nusantara Ahmad Baso, dan Andi Mariam sebagai Generasi ke-4 Pangeran Diponegoro dari Makassar serta suami Ahmad Kelana. (foto: raiky/kemenpora.go.id)

Jakarta: Asisten Deputi Bidang Peningkatan IPTEK dan IMTAQ Pemuda Esa Sukma Wijaya menghadiri Haul Pangeran Diponegoro ke-163, di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, Senin (8/1) pagi. Peringatan yang mengangkat tema "Mewarisi Nilai-nilai Kepahlawanan Pangeran Diponegoro Untuk Kaum Muda" ini, dihadiri berbagai lintas tokoh seperti Sejarawan Nasional Anhar Gonggong, Pengurus Ikatan Keluarga Pahlawan Nasonal Lily Chodidjah Wahid, Penulis Buku Islam Nusantara Ahmad Baso, dan Andi Mariam sebagai Generasi ke-4 Pangeran Diponegoro dari Makassar serta suami Ahmad Kelana.
 
Ketika bicara kaum muda sangatlah tepat jika nilai-nilai kepahlawanan para pendahulu seperti Pangeran Diponegoro dapat ditularkan. Apalagi seperti saat ini, adaptasi "zaman now" perlu dilakukan agar anak muda bangsa yang kini mencapai 60 juta-an tetap dapat eksis sesuai zamannya dengan tetap mengusung semangat kebangsaan yang tinggi.
 
"Pemuda kita saat ini mencapai 60 juta lebih, sebentar lagi bonus demografi menghampiri, anak muda harus terus disadarkan tentang nilai-nilai kepahlawanan. Dunia medsos yang menjadi media mainstreem anak muda harus diisi dengan hal-hal positif sehingga sisi negatif dapat dihindari, nilai kepahlawanan yang menjunjung tinggi semangat persatuan dan ke-Indonesia-harus terus dibangun," ujar Esa dalam sambutannya.
 
Para pembicara juga senada bahwa Diponegoro dalam perjuangannya tidak sekedar berontak karena tanahnya diusik serta tarikan pajak yang tinggi oleh pemerintah Hindia Belanda, lebih dari itu ada semangat harga diri bangsa, nusantara, dan Indonesia yang menggelora.
 
"Dalam sejarah Pangeran Diponegoro perang melawan Belanda 1825-1830, lalu diasingkan dan ke Manado, dan dipindah ke Makassar sampai akhir hidupnya. Beliau dimanapun eksis dan tetap berjuang serta melahirkan banyak keturunan, ini sebuah catatan bahwa Diponegoro tidak hanya berpikir Jawa, tetapi sebuah isyarat bahwa Indonesia ada karena ikatan semua suku bangsa dari Sabang hingga Merauke," kata Anhar Gonggong.
 
Sementara Kepala Biro Humas dan Hukum Amar Ahmad menuturkan bahwa peringatan ini dalam rangka menularkan terus semangat kebangsaan dan menjaga serta merawat NKRI. "Dengan ini kami ingin turut serta menebarkan terus semangat kebangsaan dan merawat NKRI, terlebih kepada kaum muda," katanya. (cah)
Bookmark and Share
Juli 2018
Min
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31